Solo Traveler

    • Home
    • About
    • Destinations
    • _Jogja
    • _Lampung
    • _Jawa Tengah
    • _Jawa Timur
    • _Lain-lain
    • Others
    • _Videos
    • _Articles

    Pesona Jogja memang ga ada habisnya. Ga hanya siang hari, pada malam hari pun Jogja seakan ga pernah sepi dan selalu dipadati oleh pengunjung. Berikut keindahan malam di Kota Jogja.

    Gapura Batas Kota Jogja di Jalan Magelang
    Tugu Jogja
    Siapa yang ga tahu Tugu Jogja. Tugu yang terletak di perempatan jalan utama Jogja ini selalu ramai dan menjadi salah satu tempat favorit menghabiskan malam di Jogja. Selain lokasinya yang mudah diakses, Tugu Jogja menjadi sebuah ikon yang ga boleh dilewatkan kalau mengunjungi Jogja, hingga muncul anggapan “Belum ke Jogja kalau belum foto di Tugu Jogja.”


    Tugu Jogja bukanlah tugu sembarangan, tetapi memiliki sejarah dan filosofi yang menjadikan tugu ini istimewa. Menurut sejarah Tugu Jogja dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Pada awal berdirinya tugu ini mempunyai tinggi 25 meter dan disebut Tugu Golong Gilig, dimana tiang tugu berbentuk Gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk Golong (bulat). Tugu tersebut mempunyai makna Manunggaling Kawula Gusti (hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta) yang menggambarkan semangat persatuan antara rakyat dan penguasa dalam melawan penjajah. Tugu Golong Gilig juga mempunyai satu poros imajiner antara Laut Selatan, Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi.

    Pada tanggal 10 Juni 1867 terjadi gempa di Jogja dan mengakibatkan runtuhnya Tugu Golong Gilig. Pada tahun 1889 pemerintah Belanda merenovasi dan merubah bangunan tugu. Tugu yang semula berbentuk silinder dan bulat diubah menjadi bentuk persegi dengan puncaknya berbentuk kerucut. Ketinggian tugu yang semula 25 meter dirubah menjadi 15 meter. Sejak saat itu tugu tersebut disebut De White Paal atau Tugu Pal Putih dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII pada tanggal 3 Oktober 1889.

    Diorama di Kawasan Tugu Jogja
    Malioboro
    Satu lagi yang identik dengan Jogja adalah Malioboro. Malioboro adalah nama jalan sepanjang 700 meter di Jogja yang menjadi surga belanja oleh-oleh khas Jogja. Saat ini Kawasan Malioboro menjadi kawasan pedestrian yang dilengkapi street furniture berupa bangku-bangku kayu yang menjadikan pengunjung lebih betah berlama-lama di kawasan ini. Hadirnya komunitas musik angklung di pedestrian Malioboro juga menambah "hidup" suasana malam Malioboro.



    Komunitas musik angklung di Pedestrian Malioboro yang menarik banyak pengunjung
    Bagi yang malas berjalan menyusuri Jalan Malioboro bisa menggunakan “Sepeda Publik Kawasan Malioboro” yang disediakan oleh UPT Malioboro di beberapa titik pedestrian Malioboro.

    Lalu-lalang kendaraan dan orang di depan Mal Malioboro
    Taman Parkir Abu Bakar Ali
    Taman Parkir Abu Bakar Ali letaknya ga jauh dari Stasiun Tugu dan Jalan Malioboro. Tempat parkir yang terdiri dari 3 lantai ini selain menjadi spot untuk beburu sunrise dan sunset juga menjadi salah satu tempat untuk menikmati keindahan Jogja pada malam hari.

    Hiruk pikuk kendaraan dari atas Taman Parkir Abu Bakar Ali
    Titik Nol Kilometer
    Banyak orang mengira kalau titik nol kilometer Jogja adalah Tugu, padahal yang benar adalah di ujungnya Jalan Malioboro. Di Titik Nol Kilometer dapat dijumpai beberapa bangunan kuno peninggalan Belanda (Beteng Vredeburg, Monumen Serangan Umum 1 Maret, Gedung Agung, Gedung Bank BNI, Kantor Pos Besar dan Gedung Bank BI). Pada siang hari kawasan ini menjadi kawasan wisata sejarah, namun pada malam hari berubah menjadi tempat nongkrong dan mengekspresikan diri beberapa komunitas dan seniman serta tempat pentas seni budaya.


    Gedung Bank BNI, salah satu bangunan peninggalan Belanda
    Alun-alun Kidul (Alun-alun Selatan)
    Alun-alun memang selalu menjadi tempat yang ga pernah sepi di kota mana pun, apalagi pada malam hari. Di Alun-alun Kidul Jogja pun demikian, bahkan semakin malam semakin ramai pengunjung. Di Alun-alun Kidul ada mitos yang selalu membuat orang yang datang ke Jogja penasaran, namanya Masangin. Masangin yakni berjalan kaki dari ujung alun-alun melewati ringin kembar yang berada di tengah alun-alun dengan mata tertutup, barang siapa yang berhasil maka keinginannya akan terwujud. Konon hanya mereka yang berhati bersih saja yang bisa melintasinya. Meskipun terdengar mudah, ternyata banyak yang gagal dan tidak sedikit mencobanya berkali-kali.

    Tradisi Masangin sendiri sudah ada sejak zaman Kesultanan Yogyakarta. Awalnya Masangin dilakukan saat tradisi Topo Bisu yang dilakukan setiap malam 1 suro, dimana para prajurit dan abdi dalem mengelilingi benteng tanpa mengucap satu kata pun. Mereka memulai ritual Topo Bisu dari halaman Keraton menuju pelataran alun-alun lalu melewati kedua beringin kembar tersebut. Hal tersebut diyakini untuk mencari berkah dan meminta perlindungan dari serangan musuh.

    Odong-odong, salah satu daya tarik Alun-alun Kidul
    Selain Masangin, banyak pengunjung yang tertarik dengan sepeda/odong-odong yang dihiasi lampu warna-warni dan wisata kuliner alam khas Jogja (wedang bajigur, wedang ronde, jagung bakar dan lesehan) yang berada di sekitar alun-alun. Ga jauh dari Alun-alun Kidul juga terdapat sentra gudeg terkenal di Wijilan.

    Wedang Ronde, salah satu kuliner di Alun-alun Kidul
    Taman Pelangi
    Mau lihat pelangi di malam hari? Datang aja ke Taman Pelangi di Monumen Jogja Kembali. Taman Pelangi menyajikan keindahan cahaya yang warna-warni dengan aneka bentuk lampion yang unik. Selain aneka lampion, terdapat berbagai wahana permainan. Dengan retribusi tiket masuk yang terjangkau, yakni Rp.15.000,- untuk hari Senin s.d. Kamis dan Rp.20.000,- untuk hari Jumat s.d. Minggu, Taman Pelangi bisa menjadi salah satu tempat alternatif menghabiskan malam di Jogja.



    Continue Reading

    Menjelajahi potensi alam Kabupaten Bantul serasa tak ada habisnya. Salah satu potensi alam tersebut adalah Air Terjun Lepo yang menyimpan keindahan alam dengan gemericik air berwarna turquoise yang menyejukkan jiwa. Lepo merupakan singkatan dari Ledok Pokoh, ledok berarti tanah cerukan, sedangkan Pokoh adalah nama dusun tempat air terjun ini berada, yakni Dusun Pokoh 1 di Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, sekitar 30 km dari Kota Jogja. Kalau dari Air Terjun Randusari jaraknya hanya sekitar 5 km. Walaupun papan petunjuk menuju air terjun masih minim, lokasinya cukup mudah dijangkau, bisa menggunakan bantuan GPS. Setelah memarkir kendaraan, perjalanan menuju air terjun dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak bersemen sejauh 200 meter diantara rimbunnya pepohonan.

    Air Terjun Lepo terdiri dari 3 tingkatan. Tingkat pertama dengan ketinggian sekitar ½ meter dan terlihat seperti aliran sungai. Pada bagian bawahnya terdapat sebuah kolam dengan kedalaman 1 meter. Air terjun kedua tingginya sekitar 10 meter dan merupakan daya tarik utama destinasi wisata ini. Pada bagian bawahnya terdapat sebuah kolam dengan kedalam sekitar 1 meter. Air terjun ketiga tingginya sekitar 10 meter dengan sebuah kolam dibawahnya. Untuk menuju ke air terjun ketiga ini harus hati-hati karena jalannya curam dan licin.

    Air terjun tingkat kedua dengan ketinggian sekitar 10 meter
    Air terjun tingkat ketiga dengan ketinggian sekitar 10 meter 
    Destinasi wisata yang mulai dikembangkan tahun 2013 ini sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas, diantaranya toilet, mushola dan warung makan. Tidak ada patokan harga untuk retribusi tiket masuk, pengunjung dipersilahkan memberi sumbangan seikhlasnya pada kotak yang telah disediakan, sedangkan untuk parkir motor dikenakan tarif Rp.3.000,-

    Jika berkunjung ke Air Terjun Lepo selain mengabadikan dalam bentuk foto atau video, cobalah untuk merasakan kesejukan airnya, berenang atau hanya sekedar membasuh tangan dan kaki. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan.
    Continue Reading

    Kabupaten Bantul kaya akan wisata alam, namun traveler yang ke Bantul kebanyakan hanya mengunjungi wisata alam Kebun Buah Mangunan dan beberapa hutan pinus yang dikelola Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan. Belum banyak yang tahu kalau di Bantul ada air terjun cantik yang tersembunyi di bawah pohon randu. Air terjun yang berada di Dusun Rejosari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, sekitar 26 km dari Kota Jogja itu bernama Air Terjun Randusari. Nama tersebut diambil dari pohon randu yang berada di sekitar air terjun dan nama dusun tempat air terjun ini berada.

    Perjalanan menuju Air Terjun Randusari lebih enak ditempuh dengan menggunakan motor. Gunakan bantuan GPS karena masih minimnya papan petunjuk menuju Air Terjun Randusari. Parkirkan motor di pekarangan warga dan lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak melewati parit dan sawah. Setelah berjalan sekitar 200 meter, pengunjung akan disambut suara gemuruh air terjun dengan segarnya aliran air yang menuju ke sebuah sungai kecil.

    Air terjun dengan ketinggian sekitar 10 meter ini sekilas seperti air terjun kembar dengan kolam sedalam 3 meter dibawahnya dan beberapa bebatuan besar di sekitarnya. Suasana yang cenderung tidak ramai menjadikan air terjun ini serasa milik pribadi, jika mau bermalas-malasan sambil menikmati air terjun bisa memanfaatkan hammock atau gazebo yang ada.



    Menikmati keindahan Air Terjun Randusari yang serasa milik pribadi
    Air Terjun Randusari masih minim fasilitas, hanya terdapat beberapa gazebo dan tempat sampah. Dengan tiket masuk Rp.1.000,- dan parkir Rp.3.000,-, destinasi wisata alam ini terbilang cukup murah. Jadi jika Anda ingin melepas penat sambil menikmati udara segar dan pemandangan alam yang indah serta suasana yang cenderung tidak ramai, tempat ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata alam alternatif Anda.
    Continue Reading

    Bukit Teletubbies ini bukanlah bukit yang ada di Bromo ataupun di Candi Abang, melainkan gardu pandangnya Rumah Teletubbies. Dengan menaiki gardu pandang yang ada, pengunjung bisa melihat Kompleks Rumah Dome/Rumah Teletubbies dari atas. Selain sebagai gardu pandang, bukit ini menjadi salah satu spot untuk menikmati sunset dan panorama Jogja bagian barat. Lokasinya tidak jauh dari Desa Wisata Rumah Dome dan sangat mudah dijangkau, motor pun bisa naik sampai ke atas bukit.  






    Berkunjung ke Bukit Teletubbies tidak dikenakan retribusi tiket masuk, hanya dengan mengisi buku tamu dan membayar parkir motor Rp.2.000,- saja. Walaupun tidak ada tiket masuk, fasilitas yang ada di Bukit Teletubies sudah cukup lengkap, ada tempat parkir, mushola, toilet, tempat jualan makan & minum, gazebo, taman dan gardu pandang.



    Kompleks Rumah Dome/Rumah Teletubbies dilihat dari Bukit Teletubbies
    Bukit Teletubbies selain tempatnya bersih dan nyaman juga dilengkapi dengan fasilitas yang cukup lengkap, bisa menjadi tempat alternatif para sunset hunter selain di Candi Ratu Boko dan Candi Ijo yang masih satu wilayah. Mungkin karena kurang promosi, tempat ini masih sepi pengunjung. 
    Continue Reading

    Gempa Jogja bulan Mei 2016 berkekuatan 5,9 skala richter meluluh lantakkan Dusun Nglepen, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Jogja. Hampir semua rumah di Dusun Nglepen rata dengan tanah. Bulan September 2016 sebuah lembaga swadaya masyarakat di Amerika Serikat bernama World Association of Non Governmental Organization (WAGO) lewat program Domes For The World memberikan bantuan khusus berupa rumah dome, rumah yang diadaptasi dari rumah Igloo Suku Eskimo. Keunggulan rumah dome adalah tahan gempa dan angin kencang. Donatur pembuatan rumah dome adalah Ali Alabar, pemilik Emaar Properties (Public Joint Stock Company yang berbasis di Dubai dan merupakan salah satu perusahaan real estate terbesar di dunia). Tanggal 29 April 2007 komplek rumah dome diresmikan oleh Menteri Pemukiman Hidup, Prof. Dr. Alwi Sihab dan diberi nama New Ngelepen, namun kebanyakan orang mengenal dengan nama Rumah Dome atau Rumah Teletubbies.

    Welcome Gate Rumah Dome/Rumah Teletubbies
    New Ngelepen saat ini merupakan satu-satunya kompleks rumah dome di Asia, total ada 80 unit, 52 unit sebagai rumah hunian dan sisanya untuk masjid, aula, pos kesehatan desa, homestay, MCK dan fasilitas umum lainnya. Rumah hunian di kompleks rumah dome berdiameter 7 meter dan tinggi 4,6 meter yang terdiri dari dua lantai, lantai pertama digunakan sebagai ruang tamu, kamar tidur dan dapur, kemudian lantai dua digunakan sebagai ruang keluarga, sedangkan toilet dibuat terpisah dari rumah hunian dan berdiri sendiri di tengah blok sebanyak 6 MCK. Rumah dome juga dilengkapi dengan 2 pintu, 4 jendela dan ventilasi udara di puncak domes untuk mengalirkan udara ke dalam rumah.

    Sekretariat Rumah Dome
    Sejak berdiri New Ngelepen sudah dikondisikan sebagai Desa Wisata. Dibuka setiap hari dari jam 08.00 - 17.00 WIB dengan "paket selfie" (istilah tiket masuk di rumah dome) sebesar Rp.5.000,- pengunjung bisa berkeliling dan berfoto sepuasnya. Berbagai wahana permainan anak seperti kereta mini, odong-odong, APV dan sepeda unik disediakan sebagai sarana tambahan, tentu saja dengan biaya tambahan. Bagi yang ingin melihat suasana rumah dome bisa masuk ke Galeri Rumah Dome, yang di dalamnya terdapat beberapa informasi tentang sejarah dan proses pembuatan rumah dome. Bagi yang suka coret-soret bisa menyalurkan bakatnya di “Rumah Inspirasi” yang berada di depan Galeri Rumah Dome. Jika ingin melihat Kompleks Rumah Teletubbies dari atas, pengunjung bisa menuju Bukit Teletubbies yang letaknya tidak jauh dari desa wisata ini.




    Sepeda unik, sebagai salah satu fasilitas tambahan di Desa Wisata Rumah Dome

    Untuk mengembangankan Desa Wisata Rumah Dome/Rumah Teletubbies, salah satu brand cat lokal lewat kegiatan CSRnya (Corporate Social Responsibility) menyulap kompleks rumah dome yang dulu berwarna putih menjadi warna-warni sehingga terlihat lebih cerah dan indah. Dengan suasana dan wajah baru ini diharapkan akan memberikan dampak positif pada pariwisata di Yogyakarta. 


    Kompleks Rumah Dome/Rumah Teletubbies dilihat dari Bukit Teletubbies

    Continue Reading

    Siapa sangka sebuah desa dengan deretan gunung batu raksasa yang dulunya gersang kini menjadi salah satu desa wisata terbaik ASEAN 2017 dalam ajang CBT ASEAN AWARD 2017 bersama dengan Desa Wisata Panglipuran, Kabupaten Bangli, Bali dan Desa Wisata Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Desa yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul itu bernama Nglanggeran. Desa ini berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Jogja. 

    Pemandangan dan tower relay beberapa stasiun TV sebelum sampai ke Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba


    Penunjuk arah di depan Pendopo Joglo Kalisong 
    Perjalanan panjang Nglanggeran menjadi desa wisata dengan Kawasan Ekowisata Gunung Api Purbanya menjadikan desa wisata ini lebih matang dan menemukan “jati diri”nya. Berawal dari tahun 1999, dengan modal semangat Karang Taruna Bukit Putra Mandiri mulai melakukan reboisasi di area Gunung Api Purba Nglanggeran yang luasnya 48 hektar. Kondisi lingkungan yang menghijau menarik banyak orang datang untuk tracking/mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran yang memiliki pemandangan eksotis. Gunung Api Purba Nglanggeran berdasarkan sejarah geologinya merupakan gunung api purba yang berumur 0,6 – 70 juta tahun yang lalu. Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran yakni Gunung Gedhe berada diketinggian 700 mdpl dan menjadi salah satu spot bagi pemburu sunrise. Butuh waktu 40 - 60 menit untuk bisa sampai ke puncak. Dari Puncak Gunung Gedhe pengunjung bisa menikmati kemegahan Gunung Lima Jari.

    Setelah gempa tahun 2006, semakin banyak pengunjung yang datang untuk tracking ke Gunung Api Purba Nglanggeran. Karang Taruna Desa Nglanggeran yang sudah regenerasi pun mulai lebih aktif dalam pengembangan kepariwisataan. Tahun 2007 mulai dibangun Pendopo Joglo Kalisong di Kaki Gunung Api Purba. Joglo ini dijadikan warga sebagai tempat acara adat ledekan dalam acara rasulan (bersih desa satiap setahun sekali) dan tempat untuk forum komunikasi.

    Pendopo Joglo Kalisong di Kaki Gunung Api Purba
    Dengan perkembangan yang signifikan, tahun 2007 dibentuk Badan Pengelola Desa Wisata (BPDW). Kemudian tahun 2008 mulai dibentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang terdiri dari unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, kelompok petani, kelompok pedagang dan unsur pemuda sebagai penggeraknya. Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul pun mulai melakukan pendampingan dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Famtour sebagai salah satu promosi.

    Tahun 2009 diadakan kegiatan Rasulan yang dikemas dengan pawai budaya dan diliput oleh salah satu media elektronik lokal Jogja. Setelah acara tersebut, Desa Nglanggeran pun semakin dikenal, Pokdarwis juga semakin aktif mengikuti berbagai lomba bidang pariwisata. Setahun kemudian, tahun 2010 Dinas Pariwisata DIY dan Gunung Kidul mengadakan Jelajah Wisata sebagai salah satu satu cara untuk mengenalkan Desa Wisata Nglenggeran ke dunia luar. Kemudian pada tahun 2011 Kementerian Pariwisata mulai melirik Desa Wisata Nglenggeran dan menggulirkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Tahun berikutnya, yakni tahun 2012 Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Pariwisata DIY membangun gazebo dan jalur tacking serta membangun Embung dan Kebun Buah Nglanggeran dari program Dana Hibah Gubernur.

    Dengan pembangunan sarana dan prasarana serta bertambahnya daya tarik wisata selain Gunung Api Purba yang iconic dengan Nglanggeran, terjadi peningkatan kunjungan yang cukup pesat dan tahun 2014 menjadi puncak kunjungan dalam 10 tahun terakhir. Akibat dari peningkatan kunjungan tersebut selain naiknya omset pengelolaan ternyata menimbulkan dampat negatif, Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba menjadi rusak dan banyak sampah plastik sehingga pengelola pun mulai memberlakukan retribusi tiket masuk sebagai salah satu cara untuk membatasi kunjungan. Dengan retribusi tiket masuk tersebut pengelola berharap Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba bisa menjadi special interest tourism (educational tourism, culture tourism, adventure tourism dan agro tourism) bukan mass tourism.

          
    Papan Himbauan kepada pengunjung Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba

    Untuk mengembangkan Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba, pengelola Desa Wisata Nglanggeran selain melakukan kerjasama dengan berbagai pihak (media, komunitas, akademisi, pemerintah, BUMN, swasta dan NGO) juga mengembangkan beberapa paket wisata antara lain paket homestay, paket outbound, paket live in, paket sunrise dan sunset, paket camping dan paket Puncak Kampung Pitu (desa yang secara turun temurun dihuni oleh 7 keluarga). Kegiatan pariwisata tersebut saat ini mampu menjadi penopang sektor ekonomi dan pembangunan masyarakat lokal. Terbukti dengan terbentuk beberapa kelompok masyarakat di Desa Nglanggeran antara lain Kelompok Penyedia Kuliner (coklat batangan, aneka produk minuman coklat, dodol kakao dan brownis singkong) Purba Rasa dengan berbagai keahlian pengrajin makanan, Kelompok Tani Kumpul Makaryo, Kelompok Homestay Purba Wisma (80 homestay), Kelompok Ternak Purbaya, Kelompok Pengelola Kakao, Kelompok Pengrajin, Kelompok Pedagang dan Kelompok TKI Purna. Semua produk Pokdarwis tersebut ditampung di Nglanggeran Mart.

    Taman Pendidikan Prasejarah di Kaki Gunung Api Purba

    Replika fosil dan peralatan purba (kapak genggam)

    Replika tulang, telur dinosaurus dan lukisan dinding gua
    Lorong Sumpitan (lorong sempit diantara bebatuan besar di jalur pendakian sepanjang 50 meter sebelum Pos I)

    Beberapa prestasi yang pernah diraih Desa Wisata Nglanggeran antara lain:
    1. Piagam Penghargaan dari Bupati Gunungkidul Menyatakan Karang Taruna Bukit Putra Mandiri Desa Nglanggeran sebagai Juara I pada lomba Penghijauan Swadaya Tingkat Kabupaten Gunungkidul Tahun 2001.
    2. Piagam Karang Taruna Bukit Putra Mandiri dari Gubernur DIY sebagai Juara I Penyelamat Lingkungan dalam rangka Seleksi Kalpataru Tahun 2009.
    3. Piagam Karang Taruna Bukit Putra Mandiri dari Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (KAPEDAL) sebagai Juara I Lomba Lingkungan Hidup Tingkat Kabupaten Gunungkidul Kategori Penyelamat Lingkungan Tahun 2009.
    4. Piagam dari Dinas Pariwisata DIY sebagai Juara Harapan II pada Acara Lomba Desa Wisata se-Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009.
    5. Piagam dari Dinas Pariwisata DIY Desa Nglanggeran sebagai Desa Wisata dengan Keunikan Alam pada Lomba Desa Wisata se-DIY Tahun 2009.
    6. Piagam Penghargaan dari Dinas Sosial DIY kepada Karang Taruna Bukit Putra Mandiri sebagai Juara II Karang Taruna Berprestasi Tingkat Propinsi DIY Tahun 2009 dan 2012.
    7. Penghargaan dari Blogdetik & Telkom kepada salah satu pengelola blog Gunung Api Purba sebagai Juara II Lomba Festival Blog Tingkat Nasional Tahun 2010.
    8. Penghargaan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga RI kepada salah satu pemuda pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba (Sugeng Handoko) sebagai Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dan Pariwisata Tingkat Nasional Tahun 2011.
    9. Penghargaan dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI kepada Pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba sebagai Finalis Cipta Award 2011 dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional.
    10. Penghargaan dari Java Promo kepada Pengelola Kawasan EKowisata Gunung Api Purba sebagai Juara II Lomba Desa Wisata.
    11. Penghargaan dari Kementrian BUMN kepada salah satu kelompok pemuda pengelola wisata sebagai Social Entrepreneur Lomba Mandiri Bersama Mandiri yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri Tahun 2012.
    12. Penghargaan dari BKSDA DIY kepada salah satu anggota Pokdarwis (Sugeng Handoko) sebagai Juara I Kader Konservasi Tingkat Provinsi DIY Tahun 2013.
    13. Penghargaan dari Kementrian Kehutanan RI kepada salah satu anggota Pokdarwis (Sugeng Handoko) sebagai Juara Harapan III Kader Konservasi Tingkat Nasional Tahun 2013.
    14. Penghargaan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI kepada Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran sebagai Juara II Pokdawis Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013.
    15. Penghargaan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI kepada Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran sebagai Juara II Desa Penerima PNPM Pariwisata Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013.
    16. Penghargaan dari Kemenkokesra RI kepada salah satu anggota Pokdarwis (Sugeng Handoko) sebagai Juara II Lomba Menulis 1001 Jejak PNPM Mandiri Tingkat Nasional Tahun 2014.
    17. UKM Terbaik dalam Program Lomba Wirausaha Inovatif Berbasis Lingkungan dan Sosial oleh Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK) kerjasama PT. Sampoerna. Tbk Tahun 2015.
    18. Culturepreneur Award 2016 dari Neera Ayu Foundation dan PT. Njonja Meneer dalam Kewirausahaan melalui pelestarian dan pemberdayaan Budaya.
    19. Penghargaan dari Balai Bahasa DIY dalam Penggunaan Bahasa Indonesia Terbaik pada Media Luar Ruang Tahun 2016.
    20. Desa Wisata Terbaik Asean dalam ajang CBT ASEAN AWARD Tahun 2017.
    Continue Reading

    Liburan ke luar negeri dan bisa berfoto di landmark negara tujuan menjadi impian banyak orang, tentu saja hal itu membutuhkan dana yang ga sedikit. Namun sekarang ga perlu jauh-jauh dan ga perlu uang jutaan untuk mewujudkan impian tersebut, cukup datang ke The World Landmarks di Jalan Kaliurang km 25, Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman.

    The World Landmarks mudah dijangkau dan gampang ditemukan, karena lokasinya ga jauh dari Museum Gunung Merapi, atau sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Jogja. Destinasi wisata baru dan instagramable ini selalu dipadati pengunjung, apalagi pada saat weekend atau hari libur. Jika ingin lebih puas berfoto, datanglah pada saat weekday.



    Sesuai namanya, The World Landmarks menyajikan miniatur landmark dunia seperti Menara Pisa (Italia), Big Ben (Belanda), Kincir Angin (Belanda), Menara Eiffel (Perancis), Patung Liberty (Amerika), Pagoda (Cina), Telepon Umum (London) dan Kotak Pos (London). Dengan membayar tiket masuk Rp.15.000,- dan parkir motor Rp.2.000,- kamu bisa berfoto sepuasnya dengan landmark beberapa negara tersebut tanpa ada biaya tambahan. Selain miniatur landmark terdapat gazebo, taman bunga, air mancur, patung Masha and the Bear dan patung rusa yang juga cocok sebagai spot foto.










    Saat ini The World Landmarks yang merupakan bagian dari Merapi Park masih dalam tahap pengembangan, kedepan akan dibangun Kids Waterpark dan Replika Taman Satwa serta Botanical Garden. Walaupun terbilang baru, fasilitas di destinasi wisata ini sudah cukup lengkap, ada area parkir, toilet, mushola, cafe, minimarket dan restoran.


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories
    Powered by Blogger.

    Find Me

    • facebook
    • instagram
    • youtube

    recent posts

    Labels

    Air Terjun Articles Bantul Coretan Desa Wisata Destinations Gunungkidul Jawa Tengah Jawa Timur Jogja Lain-lain Lampung Others Palembang Sleman Soloraya Sumatra Utara Sunrise Sunset Videos

    Blog Archive

    • June 2020 (3)
    • August 2018 (1)
    • May 2018 (1)
    • October 2017 (2)
    • August 2017 (7)
    • July 2017 (8)
    • June 2017 (8)
    • May 2017 (21)
    • April 2017 (7)
    • April 2016 (2)

    Wonderful Indonesia

    Wonderful Indonesia

    Translate

    facebook instagram Twitter youtube google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top