Solo Traveler

    • Home
    • About
    • Destinations
    • _Jogja
    • _Lampung
    • _Jawa Tengah
    • _Jawa Timur
    • _Lain-lain
    • Others
    • _Videos
    • _Articles

    Berbicara tentang destinasi wisata di Yogyakarta memang tidak ada habisnya, ada banyak sekali destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi. Salah satu kabupaten yang kaya akan destinasi wisata tersebut adalah Kabupaten Bantul yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kota Jogja. 


    Destinasi wisata Bantul tidak hanya terletak pada alamnya yang mempesona, tetapi juga budaya dan keramahtamahan warganya yang bakal meluluhkan hati siapa pun yang mengunjunginya. Banyak sekali destinasi wisata dan spot menarik yang sayang untuk dilewatkan. "Bantul, the Harmony of Nature and Culture"




    Continue Reading

    Bukit Teletubbies ini bukanlah bukit yang ada di Bromo ataupun di Candi Abang, melainkan gardu pandangnya Rumah Teletubbies. Dengan menaiki gardu pandang yang ada, pengunjung bisa melihat Kompleks Rumah Dome/Rumah Teletubbies dari atas. Selain sebagai gardu pandang, bukit ini menjadi salah satu spot untuk menikmati sunset dan panorama Jogja bagian barat. Lokasinya tidak jauh dari Desa Wisata Rumah Dome dan sangat mudah dijangkau, motor pun bisa naik sampai ke atas bukit.  






    Berkunjung ke Bukit Teletubbies tidak dikenakan retribusi tiket masuk, hanya dengan mengisi buku tamu dan membayar parkir motor Rp.2.000,- saja. Walaupun tidak ada tiket masuk, fasilitas yang ada di Bukit Teletubies sudah cukup lengkap, ada tempat parkir, mushola, toilet, tempat jualan makan & minum, gazebo, taman dan gardu pandang.



    Kompleks Rumah Dome/Rumah Teletubbies dilihat dari Bukit Teletubbies
    Bukit Teletubbies selain tempatnya bersih dan nyaman juga dilengkapi dengan fasilitas yang cukup lengkap, bisa menjadi tempat alternatif para sunset hunter selain di Candi Ratu Boko dan Candi Ijo yang masih satu wilayah. Mungkin karena kurang promosi, tempat ini masih sepi pengunjung. 
    Continue Reading

    Siapa sangka sebuah desa dengan deretan gunung batu raksasa yang dulunya gersang kini menjadi salah satu desa wisata terbaik ASEAN 2017 dalam ajang CBT ASEAN AWARD 2017 bersama dengan Desa Wisata Panglipuran, Kabupaten Bangli, Bali dan Desa Wisata Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Desa yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul itu bernama Nglanggeran. Desa ini berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Jogja. 

    Pemandangan dan tower relay beberapa stasiun TV sebelum sampai ke Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba


    Penunjuk arah di depan Pendopo Joglo Kalisong 
    Perjalanan panjang Nglanggeran menjadi desa wisata dengan Kawasan Ekowisata Gunung Api Purbanya menjadikan desa wisata ini lebih matang dan menemukan “jati diri”nya. Berawal dari tahun 1999, dengan modal semangat Karang Taruna Bukit Putra Mandiri mulai melakukan reboisasi di area Gunung Api Purba Nglanggeran yang luasnya 48 hektar. Kondisi lingkungan yang menghijau menarik banyak orang datang untuk tracking/mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran yang memiliki pemandangan eksotis. Gunung Api Purba Nglanggeran berdasarkan sejarah geologinya merupakan gunung api purba yang berumur 0,6 – 70 juta tahun yang lalu. Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran yakni Gunung Gedhe berada diketinggian 700 mdpl dan menjadi salah satu spot bagi pemburu sunrise. Butuh waktu 40 - 60 menit untuk bisa sampai ke puncak. Dari Puncak Gunung Gedhe pengunjung bisa menikmati kemegahan Gunung Lima Jari.

    Setelah gempa tahun 2006, semakin banyak pengunjung yang datang untuk tracking ke Gunung Api Purba Nglanggeran. Karang Taruna Desa Nglanggeran yang sudah regenerasi pun mulai lebih aktif dalam pengembangan kepariwisataan. Tahun 2007 mulai dibangun Pendopo Joglo Kalisong di Kaki Gunung Api Purba. Joglo ini dijadikan warga sebagai tempat acara adat ledekan dalam acara rasulan (bersih desa satiap setahun sekali) dan tempat untuk forum komunikasi.

    Pendopo Joglo Kalisong di Kaki Gunung Api Purba
    Dengan perkembangan yang signifikan, tahun 2007 dibentuk Badan Pengelola Desa Wisata (BPDW). Kemudian tahun 2008 mulai dibentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang terdiri dari unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, kelompok petani, kelompok pedagang dan unsur pemuda sebagai penggeraknya. Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul pun mulai melakukan pendampingan dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Famtour sebagai salah satu promosi.

    Tahun 2009 diadakan kegiatan Rasulan yang dikemas dengan pawai budaya dan diliput oleh salah satu media elektronik lokal Jogja. Setelah acara tersebut, Desa Nglanggeran pun semakin dikenal, Pokdarwis juga semakin aktif mengikuti berbagai lomba bidang pariwisata. Setahun kemudian, tahun 2010 Dinas Pariwisata DIY dan Gunung Kidul mengadakan Jelajah Wisata sebagai salah satu satu cara untuk mengenalkan Desa Wisata Nglenggeran ke dunia luar. Kemudian pada tahun 2011 Kementerian Pariwisata mulai melirik Desa Wisata Nglenggeran dan menggulirkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Tahun berikutnya, yakni tahun 2012 Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Pariwisata DIY membangun gazebo dan jalur tacking serta membangun Embung dan Kebun Buah Nglanggeran dari program Dana Hibah Gubernur.

    Dengan pembangunan sarana dan prasarana serta bertambahnya daya tarik wisata selain Gunung Api Purba yang iconic dengan Nglanggeran, terjadi peningkatan kunjungan yang cukup pesat dan tahun 2014 menjadi puncak kunjungan dalam 10 tahun terakhir. Akibat dari peningkatan kunjungan tersebut selain naiknya omset pengelolaan ternyata menimbulkan dampat negatif, Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba menjadi rusak dan banyak sampah plastik sehingga pengelola pun mulai memberlakukan retribusi tiket masuk sebagai salah satu cara untuk membatasi kunjungan. Dengan retribusi tiket masuk tersebut pengelola berharap Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba bisa menjadi special interest tourism (educational tourism, culture tourism, adventure tourism dan agro tourism) bukan mass tourism.

          
    Papan Himbauan kepada pengunjung Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba

    Untuk mengembangkan Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba, pengelola Desa Wisata Nglanggeran selain melakukan kerjasama dengan berbagai pihak (media, komunitas, akademisi, pemerintah, BUMN, swasta dan NGO) juga mengembangkan beberapa paket wisata antara lain paket homestay, paket outbound, paket live in, paket sunrise dan sunset, paket camping dan paket Puncak Kampung Pitu (desa yang secara turun temurun dihuni oleh 7 keluarga). Kegiatan pariwisata tersebut saat ini mampu menjadi penopang sektor ekonomi dan pembangunan masyarakat lokal. Terbukti dengan terbentuk beberapa kelompok masyarakat di Desa Nglanggeran antara lain Kelompok Penyedia Kuliner (coklat batangan, aneka produk minuman coklat, dodol kakao dan brownis singkong) Purba Rasa dengan berbagai keahlian pengrajin makanan, Kelompok Tani Kumpul Makaryo, Kelompok Homestay Purba Wisma (80 homestay), Kelompok Ternak Purbaya, Kelompok Pengelola Kakao, Kelompok Pengrajin, Kelompok Pedagang dan Kelompok TKI Purna. Semua produk Pokdarwis tersebut ditampung di Nglanggeran Mart.

    Taman Pendidikan Prasejarah di Kaki Gunung Api Purba

    Replika fosil dan peralatan purba (kapak genggam)

    Replika tulang, telur dinosaurus dan lukisan dinding gua
    Lorong Sumpitan (lorong sempit diantara bebatuan besar di jalur pendakian sepanjang 50 meter sebelum Pos I)

    Beberapa prestasi yang pernah diraih Desa Wisata Nglanggeran antara lain:
    1. Piagam Penghargaan dari Bupati Gunungkidul Menyatakan Karang Taruna Bukit Putra Mandiri Desa Nglanggeran sebagai Juara I pada lomba Penghijauan Swadaya Tingkat Kabupaten Gunungkidul Tahun 2001.
    2. Piagam Karang Taruna Bukit Putra Mandiri dari Gubernur DIY sebagai Juara I Penyelamat Lingkungan dalam rangka Seleksi Kalpataru Tahun 2009.
    3. Piagam Karang Taruna Bukit Putra Mandiri dari Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (KAPEDAL) sebagai Juara I Lomba Lingkungan Hidup Tingkat Kabupaten Gunungkidul Kategori Penyelamat Lingkungan Tahun 2009.
    4. Piagam dari Dinas Pariwisata DIY sebagai Juara Harapan II pada Acara Lomba Desa Wisata se-Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009.
    5. Piagam dari Dinas Pariwisata DIY Desa Nglanggeran sebagai Desa Wisata dengan Keunikan Alam pada Lomba Desa Wisata se-DIY Tahun 2009.
    6. Piagam Penghargaan dari Dinas Sosial DIY kepada Karang Taruna Bukit Putra Mandiri sebagai Juara II Karang Taruna Berprestasi Tingkat Propinsi DIY Tahun 2009 dan 2012.
    7. Penghargaan dari Blogdetik & Telkom kepada salah satu pengelola blog Gunung Api Purba sebagai Juara II Lomba Festival Blog Tingkat Nasional Tahun 2010.
    8. Penghargaan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga RI kepada salah satu pemuda pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba (Sugeng Handoko) sebagai Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dan Pariwisata Tingkat Nasional Tahun 2011.
    9. Penghargaan dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI kepada Pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba sebagai Finalis Cipta Award 2011 dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional.
    10. Penghargaan dari Java Promo kepada Pengelola Kawasan EKowisata Gunung Api Purba sebagai Juara II Lomba Desa Wisata.
    11. Penghargaan dari Kementrian BUMN kepada salah satu kelompok pemuda pengelola wisata sebagai Social Entrepreneur Lomba Mandiri Bersama Mandiri yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri Tahun 2012.
    12. Penghargaan dari BKSDA DIY kepada salah satu anggota Pokdarwis (Sugeng Handoko) sebagai Juara I Kader Konservasi Tingkat Provinsi DIY Tahun 2013.
    13. Penghargaan dari Kementrian Kehutanan RI kepada salah satu anggota Pokdarwis (Sugeng Handoko) sebagai Juara Harapan III Kader Konservasi Tingkat Nasional Tahun 2013.
    14. Penghargaan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI kepada Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran sebagai Juara II Pokdawis Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013.
    15. Penghargaan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI kepada Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran sebagai Juara II Desa Penerima PNPM Pariwisata Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013.
    16. Penghargaan dari Kemenkokesra RI kepada salah satu anggota Pokdarwis (Sugeng Handoko) sebagai Juara II Lomba Menulis 1001 Jejak PNPM Mandiri Tingkat Nasional Tahun 2014.
    17. UKM Terbaik dalam Program Lomba Wirausaha Inovatif Berbasis Lingkungan dan Sosial oleh Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK) kerjasama PT. Sampoerna. Tbk Tahun 2015.
    18. Culturepreneur Award 2016 dari Neera Ayu Foundation dan PT. Njonja Meneer dalam Kewirausahaan melalui pelestarian dan pemberdayaan Budaya.
    19. Penghargaan dari Balai Bahasa DIY dalam Penggunaan Bahasa Indonesia Terbaik pada Media Luar Ruang Tahun 2016.
    20. Desa Wisata Terbaik Asean dalam ajang CBT ASEAN AWARD Tahun 2017.
    Continue Reading

    Satu lagi destinasi wisata baru di Kabupaten Bantul, namanya Gunung Mungker. Menurut Lurah Desa Terong, Bapak Welasiman, Gunung Mungker baru dibuka pada bulan Januari 2017 dan saat ini masih dalam tahap pengembangan. Dahulu Gunung Mungker hanyalah sebuah gunung yang sepanjang jalannya berupa tanaman dan pohon liar. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Gunung Mungker merupakan puncak tertinggi di Kabupaten Bantul yang secara administratif berada di Pedukuhan Pencitrejo, Desa Terong, Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul. Dari Puncak Gunung Mungker selain panorama sunrise dan sunset, pengunjung bisa melihat hamparan perbukitan Gunung Kidul yang hijau dan ombak pantai selatan Jogja. Untuk menguji adrenalin, terdapat arena flying fox sepanjang 120 meter dari puncak Gunung Mungker.

    (Spanduk di pintu masuk)



    Gunung Mungker berada di jalur ke arah Puncak Pengger, akses menuju Gunung Mungker sangat gampang, ikuti papan petunjuk yang ada atau bisa juga menggunakan GPS. Begitu  memasuki kawasan Gunung Pengger terdapat sebuah spanduk selamat datang dan sebuah loket masuk. Setelah membayar tiket masuk, saya dipersilahkan mengikuti jalan berupa paving block. Jalan tersebut melingkari bukit Gunung Mungker, bahkan pengunjung bisa mengendarai motor atau mobilnya sampai ke atas sehingga memudahkan pengunjung untuk menuju puncak. 


    (Lapangan dan aula/ruang pertemuan)

    (Aula/ruang pertemuan)
    Walaupun masih terbilang baru, fasilitas di Gunung Mungker sudah lumayan lengkap. Selain tempat parkir, sudah ada toilet, mushola, warung makan, gazebo dan tempat duduk dari papan. Ada juga aula/ruang pertemuan  yang disewakan untuk umum. Di depan aula terdapat lapangan yang biasa digunakan warga untuk senam. Untuk memasuki Gunung Mungker pengunjung hanya dikenakan biaya parkir motor Rp.3.000,-, mobil Rp.10.000,- dan bus Rp.20.000,-


    (Ulah oknum yang tidak bertanggungjawab, mencorat-cotet fasilitas yang ada)
    Continue Reading


    Watu Loncat? Nama yang cukup unik. Pasti kita harus loncat untuk bisa sampai ke batu tersebut. Saya pun terus mengikuti papan petunjuk yang ada (yang saya baca ketika dalam perjalanan menuju Pinus Pengger). Papan petunjuk terakhir berada di samping Puskesmas Dlingo II. Saya memasuki jalan tersebut, setelah 50 meter saya mulai memasuki hutan jati dengan jalan berupa tanah yang becek dan tidak menemukan petunjuk lagi. Akhirnya saya putar balik untuk bertanya kepada warga.


    (Papan petunjuk disamping Puskesman Dlingo II)
    Informasi dari warga akses menuju ke Watu Loncat memang masih sulit, jaraknya sekitar 1 km, kalau berani bisa memakai motor. Sayapun memberanikan diri untuk memakai motor. Sesuai petunjuk dari warga, setelah masuk ke jalan yang masih berupa tanah dan ketemu tower sutet, ambil jalan di kanan tower di dekat pohon bambu, jangan lewat dibawah tower, lalu ikuti terus jalan setapak yang ada. Ketika melewati jalan setapak ini haruslah sangat berhati-hati karena jalannya sempit dan disampingnya berupa jurang.

    (Jalan tanah masuk hutan jati sebelum tower sutet)

    (Jalan setapak menuju Watu Loncat)
    Setelah sampai di ujung jalan setapak, parkirkan motor di dekat gubug dan lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter melewati semak-semak. Begitu sampai di atas akan terlihat tiga buah batu besar, diantara tiga batu tersebut ada satu batu diujung jurang. Untuk bisa ke batu tersebut saya harus meloncat, jaraknya sekitar 75 cm. Inilah alasannya kenapa tempat ini dinamakan Watu Loncat. Pemandangan berupa tumbuhan dan sawah yang hijau bisa disaksikan dari atas batu ini. Tempat ini sangat cocok untuk melihat sunrise dan sunset. Secara administratif Watu Loncat berada di Pedukuhan Pencitrejo, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

    (Ujung jalan setapak, parkirkan motor disini)

    (Pohon terakhir di dekatWatu Loncat)
    (Jarak antara batu yang dilompati , sekitar 75 cm)

    (Panorama dari atas Watu Loncat)

    Di Watu Loncat belum ada fasilitas pendukung sama sekali, cuma ada papan petunjuk yang merupakan karya mahasiswa KKN salah satu perguruan tinggi di Yogyakarya tahun 2016. Selain akses yang sulit, tidak adanya alat pengamanan di Watu Loncat apabila ingin melompat dari satu batu ke batu lainnya menjadi salah satu kendala tempat ini masih kurang diminati, karena untuk melompat butuh keberanian apabila tidak ingin mengambil resiko. Tidak dikenakan biaya apapun untuk menikmati pemandangan dari Watu Loncat ini, yang dibutuhkan hanya nyali. 
    Continue Reading
    Ingin melihat seribu bintang di angkasa? Tempat ini bisa mewujudkan keinginanmu. Destinasi wisata yang yang bernama Bukit Lintang Sewu ini berada di Dusun Karangasem, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Letaknya tidak jauh dari Pinus Asri dan masih masuk dalam Kawasan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan. Pada malam hari dari bukit ini terlihat jelas bintang-bintang di angkasa yang jumlahnya ribuan, hal inilah yang mendasari pemberian nama destinasi wisata ini, yakni Bukit Lintang Sewu (dari bahasa Jawa) yang dapat diartikan Bukit Seribu Bintang. Destinasi wisata yang dikembangkan pada awal tahun 2016 ini menawarkan daya tarik utama untuk menikmati sunset dan pemandangan Kota Jogja pada malam hari, walaupun demikian pada pagi dan siang hari tempat ini masih sangat menarik untuk dikunjungi.


    Memasuki Kawasan Bukit Lintang Sewu, saya menemukan panorama yang berbeda. Kalau di Kawasan RPH Mangunan lainnya berupa hutan pinus, di Bukit Lintang Sewu panoramanya berupa hutan kayu putih dan pohon cemara. Untuk mencapai puncak Bukit Lintang Sewu saya harus berjalan sekitar 100 meter dengan medan yang landai. Terdapat beberapa gazebo, gardu pandang dan spot foto di Bukit Lintang Sewu yang semuanya bisa dinikmati tanpa tambahan biaya. Selain spot foto, Bukit Lintang Sewu  bisa digunakan untuk acara outbound dan camping.

    (Pintu masuk Wisata Bukit Lintang Sewu)
     
    (Watu Irung)
    (Spot Tapak Buto)
    (Jalan menuju spot Omah Tawon)
    (Spot Omah Tawon)
    (Spot Omah Tawon)

    Untuk masuk ke Bukit Lintang Sewu pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp. 2.000,- dan biaya parkir motor Rp.2.000,-. Fasilitas yang ada di Bukit Lintang Sewu antara lain camping ground, parkir, gazebo, toilet, dan warung makan. 
    Continue Reading

    Di Jogja ada batu yang bisa bergoyang, kalau tidak percaya, datang saja ke Watu Goyang. Destinasi wisata ini berada di Pedukuhan Cempluk, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, sekitar 20 km dari Kota Jogja, di sebelah kiri Jalan Raya Mangunan, tidak jauh dari gapura “Selamat Datang di Desa Wisata Mangunan.” Dari jalan raya tersebut, pengunjung akan memasuki sebuah jalan bebatuan yang menanjak dengan sebuah gapura kayu bertuliskan “Wisata Watu Goyang.” Nama Watu Goyang diambil dari keberadaan batu besar yang saling bertindih di puncak bukit ini. Jika batu tersebut digerakan, batu tersebut dapat bergoyang. Katanya batu tersebut tidak akan jatuh walaupun digoyang sekencang mungkin.

    (Gapura kayu "Wisata Watu Goyang" menyambut pengunjung)
    Watu Goyang baru dibuka untuk umum pada bulan Januari 2017 dan menawarkan panorama alam dari atas perbukitan. Untuk memasuki destinasi wisata ini pengunjung hanya dikenakan biaya parkir Rp. 3.000,- saja. Dari tempat parkir pengunjung harus berjalan kaki menaiki perbukitan yang dihiasi bunga-bunga yang membentuk tulisan “Watu Goyang.” Perjalanan menuju ke puncak bukit tidaklah susah karena sudah dibangun anak tangga, jaraknyapun tidaklah jauh. 

    Sesampainya di puncak bukit Watu Goyang, pengunjung dapat menyaksikan pemadangan Kota Jogja. Dari bukit ini puncak makam raja-raja Imogiri juga dapat dilihat. Bagi pecinta foto selfie, ada beberapa spot foto menarik dan unik, semuanya gratis. Waktu kesini saya bertemu dengan rombongan anak SD Mangunan yang datang bersama beberapa gurunya. Mereka terlihat sangat senang dan menikmati kunjungan mereka ke destinasi wisata ini.

    Walaupun terbilang masih baru, fasilitas yang ada di Watu Goyang sudah lumayan, ada tempat parkir yang luas, toilet, gazebo dan warung makan. Sayangnya tempat parkirnya masih berupa tanah lita, jadi akan menjadi becek dan licin apabila hujan.









    Continue Reading
    Older
    Stories
    Powered by Blogger.

    Find Me

    • facebook
    • instagram
    • youtube

    recent posts

    Labels

    Air Terjun Articles Bantul Coretan Desa Wisata Destinations Gunungkidul Jawa Tengah Jawa Timur Jogja Lain-lain Lampung Others Palembang Sleman Soloraya Sumatra Utara Sunrise Sunset Videos

    Blog Archive

    • June 2020 (3)
    • August 2018 (1)
    • May 2018 (1)
    • October 2017 (2)
    • August 2017 (7)
    • July 2017 (8)
    • June 2017 (8)
    • May 2017 (21)
    • April 2017 (7)
    • April 2016 (2)

    Wonderful Indonesia

    Wonderful Indonesia

    Translate

    facebook instagram Twitter youtube google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top