Solo Traveler

    • Home
    • About
    • Destinations
    • _Jogja
    • _Lampung
    • _Jawa Tengah
    • _Jawa Timur
    • _Lain-lain
    • Others
    • _Videos
    • _Articles

    Berbicara tentang destinasi wisata di Yogyakarta memang tidak ada habisnya, ada banyak sekali destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi. Salah satu kabupaten yang kaya akan destinasi wisata tersebut adalah Kabupaten Bantul yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kota Jogja. 


    Destinasi wisata Bantul tidak hanya terletak pada alamnya yang mempesona, tetapi juga budaya dan keramahtamahan warganya yang bakal meluluhkan hati siapa pun yang mengunjunginya. Banyak sekali destinasi wisata dan spot menarik yang sayang untuk dilewatkan. "Bantul, the Harmony of Nature and Culture"




    Continue Reading

    Menjelajahi potensi alam Kabupaten Bantul serasa tak ada habisnya. Salah satu potensi alam tersebut adalah Air Terjun Lepo yang menyimpan keindahan alam dengan gemericik air berwarna turquoise yang menyejukkan jiwa. Lepo merupakan singkatan dari Ledok Pokoh, ledok berarti tanah cerukan, sedangkan Pokoh adalah nama dusun tempat air terjun ini berada, yakni Dusun Pokoh 1 di Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, sekitar 30 km dari Kota Jogja. Kalau dari Air Terjun Randusari jaraknya hanya sekitar 5 km. Walaupun papan petunjuk menuju air terjun masih minim, lokasinya cukup mudah dijangkau, bisa menggunakan bantuan GPS. Setelah memarkir kendaraan, perjalanan menuju air terjun dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak bersemen sejauh 200 meter diantara rimbunnya pepohonan.

    Air Terjun Lepo terdiri dari 3 tingkatan. Tingkat pertama dengan ketinggian sekitar ½ meter dan terlihat seperti aliran sungai. Pada bagian bawahnya terdapat sebuah kolam dengan kedalaman 1 meter. Air terjun kedua tingginya sekitar 10 meter dan merupakan daya tarik utama destinasi wisata ini. Pada bagian bawahnya terdapat sebuah kolam dengan kedalam sekitar 1 meter. Air terjun ketiga tingginya sekitar 10 meter dengan sebuah kolam dibawahnya. Untuk menuju ke air terjun ketiga ini harus hati-hati karena jalannya curam dan licin.

    Air terjun tingkat kedua dengan ketinggian sekitar 10 meter
    Air terjun tingkat ketiga dengan ketinggian sekitar 10 meter 
    Destinasi wisata yang mulai dikembangkan tahun 2013 ini sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas, diantaranya toilet, mushola dan warung makan. Tidak ada patokan harga untuk retribusi tiket masuk, pengunjung dipersilahkan memberi sumbangan seikhlasnya pada kotak yang telah disediakan, sedangkan untuk parkir motor dikenakan tarif Rp.3.000,-

    Jika berkunjung ke Air Terjun Lepo selain mengabadikan dalam bentuk foto atau video, cobalah untuk merasakan kesejukan airnya, berenang atau hanya sekedar membasuh tangan dan kaki. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan.
    Continue Reading

    Kabupaten Bantul kaya akan wisata alam, namun traveler yang ke Bantul kebanyakan hanya mengunjungi wisata alam Kebun Buah Mangunan dan beberapa hutan pinus yang dikelola Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan. Belum banyak yang tahu kalau di Bantul ada air terjun cantik yang tersembunyi di bawah pohon randu. Air terjun yang berada di Dusun Rejosari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, sekitar 26 km dari Kota Jogja itu bernama Air Terjun Randusari. Nama tersebut diambil dari pohon randu yang berada di sekitar air terjun dan nama dusun tempat air terjun ini berada.

    Perjalanan menuju Air Terjun Randusari lebih enak ditempuh dengan menggunakan motor. Gunakan bantuan GPS karena masih minimnya papan petunjuk menuju Air Terjun Randusari. Parkirkan motor di pekarangan warga dan lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak melewati parit dan sawah. Setelah berjalan sekitar 200 meter, pengunjung akan disambut suara gemuruh air terjun dengan segarnya aliran air yang menuju ke sebuah sungai kecil.

    Air terjun dengan ketinggian sekitar 10 meter ini sekilas seperti air terjun kembar dengan kolam sedalam 3 meter dibawahnya dan beberapa bebatuan besar di sekitarnya. Suasana yang cenderung tidak ramai menjadikan air terjun ini serasa milik pribadi, jika mau bermalas-malasan sambil menikmati air terjun bisa memanfaatkan hammock atau gazebo yang ada.



    Menikmati keindahan Air Terjun Randusari yang serasa milik pribadi
    Air Terjun Randusari masih minim fasilitas, hanya terdapat beberapa gazebo dan tempat sampah. Dengan tiket masuk Rp.1.000,- dan parkir Rp.3.000,-, destinasi wisata alam ini terbilang cukup murah. Jadi jika Anda ingin melepas penat sambil menikmati udara segar dan pemandangan alam yang indah serta suasana yang cenderung tidak ramai, tempat ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata alam alternatif Anda.
    Continue Reading
    Inilah wisata hutan pinus yang lagi ngehits di Jogja selain Hutan Pinus Mangunan. Hutan Pinus Pengger ini merupakan bagian dari Kawasan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan yang terletak di Dusun Sendangsari, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Destinasi wisata ini bisa dicapai melaui 2 rute, melalui Patuk, Kabupaten Gunung Kidul atau melalui Imogiri, Kabupaten Bantul.


    Berbeda dengan hutan pinus lainnya yang hanya cocok dikunjungi pada saat siang hari, Hutan Pinus Pengger lebih cocok dikunjungi ketika malam hari dimana pengunjung akan dimanjakan dengan gemerlapnya lampu kota. Walaupun direkomendasikan untuk berkunjung di malam hari, tidak ada salahnya kalau berkunjung lebih awal, karena di Hutan Pinus Pengger terdapat spot bernama Watu Ngadeg yang bisa digunakan untuk menikmati pemandangan Gunung Merapi Merbabu dan sunset.

    (Pine cone /buah pinus)
    Selain Watu Ngadek, terdapat banyak spot foto lain di tempat ini, antara lain Pintu Love, Watu Lempeng, Jembatan Panjang, Asuma Paduraksa, Cetta Abhipraya, Marmati, dan Tangan Raksasa. Tangan Raksasa ini sekarang menjadi spot yang lagi ngehits di Hutan Pinus Pengger. Bahkan untuk bisa foto di spot ini, pengunjung harus mengambil antrian terlebih dahulu yang disediakan oleh pihak pengelola, nanti kalau sudah gilirannya akan dipanggil. Kalau datang sendiri atau sama pasangan tidak usah bingung siapa yang akan mengambil foto, karena pihak pengelola bisa membantu mengambilkan foto. Pada malam hari pun spot ini masih bisa digunakan untuk berfoto karena di ujung jari Tangan Raksasa terdapat lampu, begitu juga di beberapa spot foto yang lain yang dilengkapi dengan lampu pada malam hari yang akan membuat foto menjadi lebih kece. Untuk menikmati spot foto di Tangan Raksasa pengunjung dikenakan biaya Rp. 2.000,- sedangkan untuk spot foto lainnya pengunjung membayar seiklasnya.

    (Watu Lempeng)

    (Watu Ngadek)

    (Asuma Paduraksa)

    (Cetta Abhipraya)

    (Tangan Raksasa)
    Untuk memasuki Hutan Pinus Pengger pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp.2.000,-/orang dan parkir Rp.2000,- untuk motor dan Rp.10.000,- untuk mobil. Fasilitas yang ada sudah cukup lengkap, ada mushola, toilet, warung makan, gazebo, rumah pohon, wifi dan tempat parkir. Sayangnya tempat parkir untuk motor terbilang sempit, tidak seperti parkir mobil yang lebih lapang. Selain itu tidak terlihat petugas yang mengatur di tempat parkir motor sehingga motor tidak tertata dengan rapi, berbeda dengan parkir mobil yang dijaga dan diatur oleh beberapa petugas.

    (Tempat parkir motor)
    Continue Reading

    Satu lagi destinasi wisata baru di Kabupaten Bantul, namanya Gunung Mungker. Menurut Lurah Desa Terong, Bapak Welasiman, Gunung Mungker baru dibuka pada bulan Januari 2017 dan saat ini masih dalam tahap pengembangan. Dahulu Gunung Mungker hanyalah sebuah gunung yang sepanjang jalannya berupa tanaman dan pohon liar. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Gunung Mungker merupakan puncak tertinggi di Kabupaten Bantul yang secara administratif berada di Pedukuhan Pencitrejo, Desa Terong, Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul. Dari Puncak Gunung Mungker selain panorama sunrise dan sunset, pengunjung bisa melihat hamparan perbukitan Gunung Kidul yang hijau dan ombak pantai selatan Jogja. Untuk menguji adrenalin, terdapat arena flying fox sepanjang 120 meter dari puncak Gunung Mungker.

    (Spanduk di pintu masuk)



    Gunung Mungker berada di jalur ke arah Puncak Pengger, akses menuju Gunung Mungker sangat gampang, ikuti papan petunjuk yang ada atau bisa juga menggunakan GPS. Begitu  memasuki kawasan Gunung Pengger terdapat sebuah spanduk selamat datang dan sebuah loket masuk. Setelah membayar tiket masuk, saya dipersilahkan mengikuti jalan berupa paving block. Jalan tersebut melingkari bukit Gunung Mungker, bahkan pengunjung bisa mengendarai motor atau mobilnya sampai ke atas sehingga memudahkan pengunjung untuk menuju puncak. 


    (Lapangan dan aula/ruang pertemuan)

    (Aula/ruang pertemuan)
    Walaupun masih terbilang baru, fasilitas di Gunung Mungker sudah lumayan lengkap. Selain tempat parkir, sudah ada toilet, mushola, warung makan, gazebo dan tempat duduk dari papan. Ada juga aula/ruang pertemuan  yang disewakan untuk umum. Di depan aula terdapat lapangan yang biasa digunakan warga untuk senam. Untuk memasuki Gunung Mungker pengunjung hanya dikenakan biaya parkir motor Rp.3.000,-, mobil Rp.10.000,- dan bus Rp.20.000,-


    (Ulah oknum yang tidak bertanggungjawab, mencorat-cotet fasilitas yang ada)
    Continue Reading


    Watu Loncat? Nama yang cukup unik. Pasti kita harus loncat untuk bisa sampai ke batu tersebut. Saya pun terus mengikuti papan petunjuk yang ada (yang saya baca ketika dalam perjalanan menuju Pinus Pengger). Papan petunjuk terakhir berada di samping Puskesmas Dlingo II. Saya memasuki jalan tersebut, setelah 50 meter saya mulai memasuki hutan jati dengan jalan berupa tanah yang becek dan tidak menemukan petunjuk lagi. Akhirnya saya putar balik untuk bertanya kepada warga.


    (Papan petunjuk disamping Puskesman Dlingo II)
    Informasi dari warga akses menuju ke Watu Loncat memang masih sulit, jaraknya sekitar 1 km, kalau berani bisa memakai motor. Sayapun memberanikan diri untuk memakai motor. Sesuai petunjuk dari warga, setelah masuk ke jalan yang masih berupa tanah dan ketemu tower sutet, ambil jalan di kanan tower di dekat pohon bambu, jangan lewat dibawah tower, lalu ikuti terus jalan setapak yang ada. Ketika melewati jalan setapak ini haruslah sangat berhati-hati karena jalannya sempit dan disampingnya berupa jurang.

    (Jalan tanah masuk hutan jati sebelum tower sutet)

    (Jalan setapak menuju Watu Loncat)
    Setelah sampai di ujung jalan setapak, parkirkan motor di dekat gubug dan lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter melewati semak-semak. Begitu sampai di atas akan terlihat tiga buah batu besar, diantara tiga batu tersebut ada satu batu diujung jurang. Untuk bisa ke batu tersebut saya harus meloncat, jaraknya sekitar 75 cm. Inilah alasannya kenapa tempat ini dinamakan Watu Loncat. Pemandangan berupa tumbuhan dan sawah yang hijau bisa disaksikan dari atas batu ini. Tempat ini sangat cocok untuk melihat sunrise dan sunset. Secara administratif Watu Loncat berada di Pedukuhan Pencitrejo, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

    (Ujung jalan setapak, parkirkan motor disini)

    (Pohon terakhir di dekatWatu Loncat)
    (Jarak antara batu yang dilompati , sekitar 75 cm)

    (Panorama dari atas Watu Loncat)

    Di Watu Loncat belum ada fasilitas pendukung sama sekali, cuma ada papan petunjuk yang merupakan karya mahasiswa KKN salah satu perguruan tinggi di Yogyakarya tahun 2016. Selain akses yang sulit, tidak adanya alat pengamanan di Watu Loncat apabila ingin melompat dari satu batu ke batu lainnya menjadi salah satu kendala tempat ini masih kurang diminati, karena untuk melompat butuh keberanian apabila tidak ingin mengambil resiko. Tidak dikenakan biaya apapun untuk menikmati pemandangan dari Watu Loncat ini, yang dibutuhkan hanya nyali. 
    Continue Reading
    Ingin melihat seribu bintang di angkasa? Tempat ini bisa mewujudkan keinginanmu. Destinasi wisata yang yang bernama Bukit Lintang Sewu ini berada di Dusun Karangasem, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Letaknya tidak jauh dari Pinus Asri dan masih masuk dalam Kawasan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan. Pada malam hari dari bukit ini terlihat jelas bintang-bintang di angkasa yang jumlahnya ribuan, hal inilah yang mendasari pemberian nama destinasi wisata ini, yakni Bukit Lintang Sewu (dari bahasa Jawa) yang dapat diartikan Bukit Seribu Bintang. Destinasi wisata yang dikembangkan pada awal tahun 2016 ini menawarkan daya tarik utama untuk menikmati sunset dan pemandangan Kota Jogja pada malam hari, walaupun demikian pada pagi dan siang hari tempat ini masih sangat menarik untuk dikunjungi.


    Memasuki Kawasan Bukit Lintang Sewu, saya menemukan panorama yang berbeda. Kalau di Kawasan RPH Mangunan lainnya berupa hutan pinus, di Bukit Lintang Sewu panoramanya berupa hutan kayu putih dan pohon cemara. Untuk mencapai puncak Bukit Lintang Sewu saya harus berjalan sekitar 100 meter dengan medan yang landai. Terdapat beberapa gazebo, gardu pandang dan spot foto di Bukit Lintang Sewu yang semuanya bisa dinikmati tanpa tambahan biaya. Selain spot foto, Bukit Lintang Sewu  bisa digunakan untuk acara outbound dan camping.

    (Pintu masuk Wisata Bukit Lintang Sewu)
     
    (Watu Irung)
    (Spot Tapak Buto)
    (Jalan menuju spot Omah Tawon)
    (Spot Omah Tawon)
    (Spot Omah Tawon)

    Untuk masuk ke Bukit Lintang Sewu pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp. 2.000,- dan biaya parkir motor Rp.2.000,-. Fasilitas yang ada di Bukit Lintang Sewu antara lain camping ground, parkir, gazebo, toilet, dan warung makan. 
    Continue Reading

    Goa Selarong dikenal sebagai tempat bersejarah, yakni tempat persembunyian Pangeran Diponegoro. Berlokasi di Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari, Kecamatan Panjangan, Kabupaten Bantul, Kompleks Goa Selarong berada di perbukitan kapur yang ditumbuhi pepohon yang rindang. Untuk mencapai goa pengunjung harus melewati beberapa anak tangga yang curam sejauh 400 meter.

    (Tangga menuju Goa Selarong)
    Secara kasat mata, Goa Selarong terlihat buntu, hanya berupa cekungan. Namun menurut cerita goa ini bisa dimasuki oleh Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya karena di goa ini terdapat sebuah pintu gaib yang kasap mata. Selain goa utama, terdapat 2 goa lain yang menjadi bagian dari Goa Selarong, yaitu Goa Kakung dan Goa Putri.


    Tujuan utama saya kesini memang bukan untuk ke Goa Selarongnya tetapi lebih ke curugnya. Curug Selarong sendiri terletak disebelah Goa Selarong, hanya berjarak beberapa meter saja. Waktu saya kesini curug dengan ketinggian sekitar 20 meter ini debit airnya sangat sedikit, mungkin akan berbeda jika musim hujan. Jalan menuju curug seakan belum dibuat, hanya berupa jalan tanah dan berbatu yang curam dan licin, sayapun sempat terpeleset dan hampir jatuh. Saya juga tidak melihat pengunjung lain berada di sekitar curug ini, mungkin karena debit airnya yang kecil sehingga tidak banyak orang yang tahu akan keberadaan curug ini. Kalau saja pengelola menambahkan papan penunjuk arah menuju ke Curug Selarong, mungkin banyak pengunjung yang akan tertarik untuk sekedar menikmati keindahan dan kesegaran air curug ini.

    Ada berbagai fasilitas yang ada di Kawasan Goa Selarong ini, ada beberapa gazebo berbentuk joglo, arena bermain anak-anak, toilet dan masjid. Di sekitaran Kawasan Goa Selarong juga sudah ada beberapa warung dan beberapa pengasong makanan dan minuman serta buah yang kebanyakan nenek-nenek dan ibu-ibu.



    Karena saya masuknya lewat jalan dan pintu masuk yang “tidak semestinya,” saya tidak mengeluarkan biaya apapun. Flashback perjalanan saya dari Kedung Pengilon, saya menggunakan GPS di smartphone untuk menuju Goa Selarang. Jaraknya sekitar 5 km, saya sempat ragu sewaktu petunjuk di GPS mengharuskan saya belok ke kanan memasuki area hutan. Saya terus memasuki hutan yang jalannya masih berupa tanah yang sebagian berbatu terjal tersebut. Setelah 600 meter akhirnya saya bertemu dengan rombongan komunitas trail yang sedang istirahat di sebuah gazebo. Saya sempat ditertawakan mereka karena berani memasuki hutan sendirian dengan medan yang harusnya buat motor trail. Menurut mereka GPSnya salah, tetapi menurut saya GPS di smartphone saya tidak salah, buktinya saya beneran sampai ke tujuan, cuma tidak melewati pintu masuk yang “tidak semestinya.” Setelah memarkirkan motor di dekat gazebo tersebut, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni tangga yang sedikit basah dan licin sejauh 100 meter untuk menuju Kawasan Goa Selarong.

    Continue Reading

    Curug yang bisa buat bercermin? Sebening apa airnya? Saya mendapatkan informasi destinasi wisata ini dari penjaga parkir di Curug Pulosari. Setelah terlebih dahulu mengunjungi Curug Banyunibo yang tidak jauh dari Curug Pulosari, saya melanjutkan perjalanan ke Kedung Pengilon.


    Setelah menempuh jarak sekitar 5 km, akhirnya saya sampai ke Kedung Pengilon. Kedung Pengilon terletak di Dusun Petung, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Setelah memarkirkan motor, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni anak tangga (yang kayaknya belum lama dibangun). Setelah berjalan sekitar 200 meter diantara hutan jati, terlihat sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 10 meter dengan sebuah kolam berwarna hijau tosca dibawahnya dengan diameter sekitar 15 meter. Dari papan informasi yang ada, kedalaman kolam mencapai 8 meter. Untuk menyeberang ke sisi lain Kedung Pengilon dibangun sebuah jembatan.

    (Papan informasi dan peringatan serta jembatan untuk menyeberang ke sisi lain curug)
    Sewaktu saya datang, saya melihat beberapa pengunjung yang meloncat dan meluncur bebas ke dalam kolam, ada juga yang sekedar duduk-duduk di gazebo sambil menikmati pemandangan air terjun. Adapun asal usul nama Kedung Pengilon berasal dari kolam (kedung) yang airnya sangat jernih sehingga bisa digunakan untuk pengilon (bercermin). Konon terdapat mitos kalau Kedung Pengilon dikuasai oleh ratu ular gaib bernama Nini Blorong yang bermukim di pusaran air di tengah curug. Nini Blorong akan meminta tumbal setiap tahunnya dan mengganggu pengunjung yang jahil. Tak heran kalau selain dikunjungi wisatawan, Kedung Pengilon juga sering didatangi orang-orang yang melakukan ritual kebatinan.



    Berkunjung ke destinasi wisata ini sebaiknya pada musim penghujan dimana debit airnya akan cukup besar, tidak seperti pada saat saya berkunjung, debit airnya kecil. Untuk memasuki Kedung Pengilon pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, hanya dikenakan biaya parkir Rp.2.000,- Di Kedung Pengilon sudah tersedia toilet, kamar ganti dan gazebo, saya tidak melihat warung yang menjajakan makanan dan minuman.
    Continue Reading
    Older
    Stories
    Powered by Blogger.

    Find Me

    • facebook
    • instagram
    • youtube

    recent posts

    Labels

    Air Terjun Articles Bantul Coretan Desa Wisata Destinations Gunungkidul Jawa Tengah Jawa Timur Jogja Lain-lain Lampung Others Palembang Sleman Soloraya Sumatra Utara Sunrise Sunset Videos

    Blog Archive

    • June 2020 (3)
    • August 2018 (1)
    • May 2018 (1)
    • October 2017 (2)
    • August 2017 (7)
    • July 2017 (8)
    • June 2017 (8)
    • May 2017 (21)
    • April 2017 (7)
    • April 2016 (2)

    Wonderful Indonesia

    Wonderful Indonesia

    Translate

    facebook instagram Twitter youtube google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top