Solo Traveler

    • Home
    • About
    • Destinations
    • _Jogja
    • _Lampung
    • _Jawa Tengah
    • _Jawa Timur
    • _Lain-lain
    • Others
    • _Videos
    • _Articles

    Lawang Sewu
    Lawang Sewu merupakan landmark Kota Semarang dan menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Gedung tua yang penuh dengan cerita mistis dan bersejarah ini dulu merupakan Kantor Perusahaan Kereta Api milik Belanda. Nama Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa, “Lawang” yang berarti pintu dan “Sewu” yang berarti seribu, jadi Lawang Sewu bisa diartikan sebagai bangunan yang memiliki seribu pintu. Sebenarnya jumlah pintu Lawang Sewu tidak mencapai seribu, hanya 429 buah, namun karena jumlahnya sangat banyak, masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu.



    Destinasi wisata yang berada di sebelah timur Tugu Muda Semarang tepatnya di pertemuan antara Jalan Pandanaran dan Jalan Pemuda ini dibuka secara resmi sebagai destinasi wisata pada tanggal 5 Juli 2011 oleh Ibu Ani Bambang Yudhoyono. Saat ini Lawang Sewu dikelola oleh PT. Kereta Api Indonesia dan dibuka untuk umum dari jam 07.00 WIB s.d. 21.00 WIB. Harga tiket masuk ke gedung bersejarah ini sangat terjangkau, Rp.10.000,- untuk dewasa dan Rp.5.000,- untuk anak-anak/pelajar. Kalau Anda seorang  penakut, jangan coba-coba berkeliling Lawang Sewu sendirian ya.



             
    Masjid Agung Jawa Tengah
    Masjid Agung Jawa Tengah merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia. Menurut informasi dari website Masjid Agung Jawa Tengah http://majt.or.id/, keberadaan Masjid Agung Jawa Tengah tak bisa lepas dari Masjid Agung Kauman Semarang. Menurut cerita, Masjid Agung Kauman Semarang mempunyai tanah banda masjid seluas 119,1270 hektar yang dikelola oleh Badan Kesejahteraan Masjid (BKM), organisasi bentukan Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Departemen Agama. Karena dianggap tidak produktif, tanah banda tersebut oleh BKM ditukar guling (ruislag) dengan tanah seluas 250 hektare di Kabupaten Demak lewat PT. Sambirejo. Dari PT. Sambirejo kemudian berpindah kepada PT. Tens Indo Tjipto Siswojo.


    Singkat cerita proses ruilslag itu tidak berjalan mulus, tanah di Demak itu ternyata ada yang sudah jadi laut, sungai, kuburan dan lain-lain. Akhirnya tanah banda Masjid Agung Kauman Semarang hilang. Lewat jalur hukum dari Pengadilan Negeri Semarang hingga Kasasi di Mahkamah Agung, Masjid Agung Kauman (BKM) selalu kalah. Akhirnya dibentuk Tim Terpadu yang dimotori oleh Badan Koordinasi Stabilitas Nasional Daerah (Bakorstanasda) Jawa Tengah/Kodam IV Diponegoro. Pada tanggal 17 Desember 1999, usai shalat Jumat di Masjid Agung Kauman, ribuan umat Islam melakukan longmarch dari Masjid Agung Kauman menuju rumah Tjipto Siswojo di Jalan Branjangan 22-23, kawasan Kota Lama Semarang. Akhirnya Tjipto Siswojo mau menyerahkan sertifikat tanah-tanah itu kepada masjid. Dari 119,1270 hektar tanah banda Masjid Agung Kauman Semarang yang hilang, baru ditemukan 69,2 hektar. Sebagai pertanda kembalinya tanah banda Masjid yang hilang, didirikan masjid seluas 10 hektar yang diambil dari tanah banda yang sudah ditemukan.

    Masjid Agung Jawa Tengah mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006 yang kemudian diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006. Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dengan perpaduan gaya arsitektur Jawa, Arab dan Romawi. Arsitektur Jawa terlihat pada atap kubah dan beberapa bagian dasar tiang masjid yang menggunakan motif batik, arsitektur Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid yang bergaya koloseum yang menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, sedangkan arsitektur Arab terlihat pada hiasan kaligrafi di pilar masjid.

    Di serambi masjid terdapat Gerbang Al-Qanathir (artinya megah dan bernilai) berjumlah 25 buah, simbol dari 25 Rosul. Pada gerbang tersebut terdapat kaligrafi syahadat tauhid “Asyhadu Alla Illa Ha Illallah´ dan syahadat rasul “Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah” sedang pada bidang datar terdapat tulisan “Sucining Guna Gapuraning Gusti” (yang berarti Tahun Jawa 1943 atau Tahun Masehi 2001, tahun dimulainya realisasi dari gagasan pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah). Serambi masjid seluas 7500 meter persegi ini merupakan perluasan ruang sholat yang dapat menampung kurang lebih 10.000 jamaah dan dilengkapi dengan 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi sebagai simbol Rukun Iman. Tinggi masing-masing payung adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Payung tersebut dibuka setiap shalat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha dan acara-acara besar.


    Di dalam Masjid bagian Timur Utara juga terdapat Bedug Raksasa bernama “BEDUG IJO” dengan panjang 310 cm dan diameter 186 - 220 cm. Sedangkan di depan masjid terdapat Menara Al Husna yang tingginya 99 meter dengan 19 lantai. Lantai 2 dan 3 untuk Museum Kebudayaan Islam. Di lantai 2 ini disimpan Al-Qur’an Raksasa (Mushaf Al-Akbar) dengan ukuran 145 cm x 95 cm. Di lantai 18 terdapat kafe muslim yang bisa berputar 360 derajat. Di lantai 19 untuk menara pandang yang dilengkapi dengan 5 teropong yang bisa melihat pemandangan Kota Semarang. Yang menginginkan wisata kuliner, di bagian selatan Masjid Agung Jawa Tengah dan bagian depan/timur masjid terdapat PUJASERA yang menyediakan aneka hidangan. Untuk pelayanan kesehatan kepada jamaah, Masjid Agung Jawa Tengah mempunyai Poliklinik (poli umum dan poli gigi).

    Klenteng Sam Po Kong
    Menurut cerita, pada awal abad ke-15 Laksamana Zheng He (Cheng Ho) mengadakan pelayaran menyusuri pantai Laut Jawa. Karena juru mudi (Wang Jing Hong) sakit, Laksamana Zheng He kemudian merapat di Pantai Simongan Semarang. Sebuah gua batu dijadikan tempat beristirahat dan mengobati Wang Jing Hong. Sementara juru mudinya menyembuhkan diri, Laksamana Zheng He melanjutkan pelayaran ke Timur untuk menuntaskan misi perdamaian dan perdagangan keramik serta rempah-rempah.

    Selama di Simongan, Wang Jing Hong memimpin anak buahnya menggarap lahan, membangun rumah dan bergaul dengan penduduk setempat. Lingkungan sekitar gua jadi berkembang dan makmur karena aktivitas dagang maupun pertanian. Demi menghormati pimpinannya, Wang Jing Hong mendirikan patung Zheng He di gua batu tersebut untuk dihormati dan dikenang masyarakat sekitar.


    Dalam perjalanannya, Klenteng Sam Poo Kong beberapa kali menjalani pemugaran. Selain karena situasi politik yang tidak menentu pasca kemerdekaan, banjir merupakan masalah utama yang dihadapi Klenteng Sam Poo Kong. Revitalisasi besar-besaran dilakukan oleh Yayasan Sam Poo Kong pada Januari 2002. Pemugaran selesai pada Agustus 2005, bersamaan dengan perayaan 600 tahun kedatangan Laksamana Zheng He di pulau Jawa.

    Komplek Klenteng Sam Poo Kong terdiri beberapa bangunan, yaitu Tempat Pemujaan Dewa Bumi, Makan Kyai Juru Mudi, Tempat Peujaan Sam Poo Kong, Makam Kyai Djangkar, Tempat Nyai Cundrik Bumi dan Tempat Kyai Nyai Tumpeng. Pengunjung hanya bisa melihat dan berfoto di area luar kelenteng, hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu umat yang sedang berdoa di dalam kelenteng. Kelenteng ini memanf lebih bagus kalau dikunjungi pada waktu siang hari.

    Continue Reading


    Solo Batik Carnival sudah diselenggarakan selama satu dekade, namun demikian sebagai orang Solo, baru tahun ini saya bisa melihat acara Solo Batik Carnival secara langsung. Solo Batik Carnival atau yang lebih dikenal dengan SBC terinspirasi dari Jember Fashion Carnaval (JFC) dan menjadi event tahunan di Kota Solo. Wali Kota Solo waktu itu, Joko Widodo secara khusus mengundang Presiden JFC (Dynand Fariz) untuk menggarap acara serupa di Kota Solo namun dengan tema batik. 

    Sebelumnya mari flashback sejenak untuk mengingat penyelenggaraan SBC dari awal :
    SBC pertama digelar pada tanggal 13 April 2008 dengan tema Wayang dan diikuti oleh sekitar 250 peserta yang diawali oleh Jember Fashion Carnaval kemudian disusul peserta dari Solo. Karnaval dibuka oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dengan rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Purwosari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC kedua digelar pada tanggal 28 Juni 2009 dengan tema Topeng dan diikuti oleh sekitar 300 peserta yang menyuguhkan tiga jenis topeng tradisional, yaitu Panji (melambangkan raja atau ratu), Kelana (melambangkan kesatria atau raksasa), dan Gecul (melambangkan Punakawan atau hamba sahaya). Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Purwosari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC ketiga digelar pada tanggal 23 Juni 2010 dengan tema Sekar Jagad dan diikuti oleh sekitar 300 peserta. Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Solo Center Point (SCP) Purwosari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC keempat digelar pada tanggal 25 Juni 2011 dengan tema Keajaiban Legenda dan diikuti oleh sekitar 325 peserta yang dibagi menjadi empat kelompok, Andhe-Andhe Lumut, Roro Jongrang, Ratu Pantai Selatan dan Ratu Kencana Wungu. Berbeda dari SBC sebelumnya, SBC keempat dilaksanakan pada malam hari dengan diterangi lampu di 10 titik di sepanjang Jalan Slamet Riyadi mulai dari Solo Center Point (SCP) sampai dengan Balai Kota Solo. Selain itu tampil peserta khusus yaitu empat Puteri Indonesia, Nadine Alexandra Dewi (Puteri Indonesia), Inda Adeliani (Puteri Intelegensia), Alessandra K Usman (Puteri Pariwisata) dan Reisa Kartikasari (Puteri Lingkungan).

    SBC kelima juga digelar pada malam hari pada tanggal 30 Juni 2012 dengan tema Metamorfosis dan diikuti oleh sekitar 325 peserta dengan rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Balai Kota Solo. Tema ini menggambarkan tahap-tahap pembatikan mulai dari pengerjaan pola motif pada kain, menggambar dengan malam, pewarnaan dan penghilangan malam.

    SBC keenam digelar pada tanggal 29 Juni 2013 dengan tema Earth to earth yang mencerminkan 4 elemen dasar bumi yaitu air, udara (angin), api dan tanah (bumi) dan diikuti oleh sekitar 143 peserta. SBC tahun 2013 digelar sore hari dengan rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Solo Center Point (SCP) Purwosari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC ketujuh digelar pada tanggal 22 Juni 2014  dengan tema Majestic Treasure dan diikuti oleh sekitar 725 orang dengan peserta tamu dari Kalimantan Timur. Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC kedelapan digelar pada tanggal 13 Juni 2015 dengan tema Mancavarna dan diikuti oleh 600 sekitar peserta. Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC kesembilan digelar pada tanggal 24 Juli 2016 dengan tema Mustika Jawa Dwipa dan diikuti oleh sekitar 300 peserta. Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Balai Kota Solo. Pada SBC ke-9 ini akan diberikan costume award kepada 8 peserta dengan kostum terbaaik.
    Tahun ini SBC yang kesepuluh mengusung tema Astamurti Kawijayan. Dalam Bahasa Kawi, Astamurti berarti bentuk dan Kawijayan berarti Kejayaan, sehingga Astamurti Kawijayan dapat diartikan sebagai wujud kejayaan tradisi budaya jawa yang berupa karya seni yang berasal dari nenek moyang tanah jawa. Ada enam jenis kostum dalam SBC tahun ini dimana kostum tersebut merupakan tema yang pernah diangkat dari SBC tahun sebelumnya dalam satu dekade ini antara lain Wayang, Topeng, Sekar Jagad, Mustika Jawa Dwipa, Legenda dan Jatayu (sebagai maskotnya). Kostum kreasi Jatayu tersebut dikenakan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo.


     
    Rute karnaval menempuh jarak sekitar 3 km menyusuri Jalan Slamet Riyadi, berawal dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Benteng Vasternburg. SBC tahun ini diikuti oleh sekitar 450 peserta dan turut diramaikan oleh Jember Fashion Carnaval, Gilang Ramadhan Studio, Peni Chandra Rini, The Caruban Carnival, Miss Global Indonesia, Mister Teen International 2016 dan Mister Teen Jateng 2017. 












    Seorang warga sedang mengabadikan moment Solo Batik Carnival
    Wisatawan asing yang datang untuk menyaksikan Solo Batik Carnival

    Saya salut dan bangga dengan Pemerintah Kota Solo yang telah sukses menyelenggarakan SBC. Dari awal sebelum acara dimulai, saya melihat sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya temui ketika menyaksikan acara pawai budaya/karnaval.
    • 2 jam sebelum acara dimulai, rute yang akan dilewati oleh peserta karnaval sudah steril dari kendaraan (walaupun masih ada beberapa pengendara yang terjebak di dalam area karnaval dan bingung mau keluar).
    • 1 jam sebelum acara dimulai ada mobil dari Dinas Kominfo Kota Solo dengan pengeras suara menghimbau kepada masyarakat yang menonton SBC untuk tertib dan tidak mengajak peserta karnaval untuk berfoto selfie.
    • Jalan yang akan dilewati peserta karnaval  disiram air terlebih dahulu oleh mobil pemadam kebakaran  agar tidak panas.
    • Waktu acara dimulai sampai acara selesai pun masyarakat yang menonton tetap tertib dan mudah diatur oleh panitia untuk mundur dan memberi jalan kepada peserta karnaval yang akan lewat.
    Provinsi, kota dan kabupaten lain yang mengadakan karnaval atau pawai budaya semoga bisa mencontoh dari penyelenggaraan SBC ini.

    Mobil Pemadam Kebakaran yang menyirami jalan sebelum acara dimulai

    Semoga dengan SBC akan semakin memperkuat Kota Solo sebagai kota budaya yang kreatif dan dapat melestarikan batik sebagai kekayaan budaya Indonesia.
    Continue Reading
    Banyak orang menyebut Candi Sukuh sebagai candi porno karena penggambaran alat kelamin manusia pada patung dan reliefnya. Candi Hindu ini terletak di bagian barat lereng Gunung Lawu pada ketinggian 900 mdpl, tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sekitar 30 km dari Kota Solo atau sekitar 15 km dari Candi Cetho. Candi Sukuh menghadap ke arah barat, berbeda dengan kebanyakan candi Hindu lainnya yang menghadap ke arah timur (terbitnya matahari).



    Menurut sejarah Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-15 Masehi dan ditemukan kembali oleh Johnson pada masa pemerintahan Britania Raya tahun 1815. Candi Sukuh pun terus menjadi obyek penelitian oleh Van der Vlis pada tahun 1942, Hoepermanans tahun 1864 – 1967, Verbeek tahun 1889 dan WF. Stutterheim dan Knebel di tahun 1910.

    Candi Hindu dengan luas 5.500 m² ini terdiri dari 3 teras. Teras pertama ditandai dengan gapura beratap (gapura paduraksa) dengan relief raksasa memakan orang di sebelah kanan dan raksasa memakan naga di sebelah kiri. Relief tersebut menggambarkan tahun selesainya pembangunan gapura ini. Pada pintu atas gapura terdapat hiasan arca (kalamakara), sedang pada lantai gapura terdapat relief alat kelamin wanita (lingga) dan alat kelamin pria (yoni) yang bersentuhan/berhubungan sebagai lambang kesuburan. Ini menjadi salah satu alasan mengapa candi ini dianggap candi porno. Saat ini lorong gapura diberi pagar sehingga tidak bisa dilalui.


    (Kalamakara di pintu atas gapura teras pertama)
    (Salah satu relief di Candi Sukuh)
    (Pemandangan dari teras pertama Candi Sukuh)
    Pada teras kedua tidak dijumpai adanya patung, hanya terdapat gapura bentar tanpa atap yang kondisnya sudah rusak. Naik ke teras ketiga terdapat pelataran besar dengan candi induk yang dihiasi beberapa relief di sebelah kiri dan beberapa patung di sebelah kanan. Tepat di atas candi utama terdapat tempat menaruh sesaji. Untuk naik ke atas candi pengunjung harus menaiki tangga yang relatif tinggi dengan lorong yang sempit.


    Pemandangan dari atas candi induk
    (Tangga dan lorong sempit untuk naik atas candi induk)
    (Tempat sesaji dan dupa di atas candi induk)


    Yang unik dan menarik dari Candi Sukuh selain bentuknya yang menyerupai piramida adalah konon tempat ini sering digunakan untuk uji kesetiaan dan uji keperawanan/keperjakaan. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp.3.000,- dan parkir motor Rp.2.000,- serta sewa kain kampuh dengan biaya seikhlasnya, pengunjung bisa menyusuri tiap sudut Candi Sukuh dan membuktkan mitos yang ada tersebut.
    Continue Reading

    Banyak yang tidak tahu kalau di dekat Candi Cetho ada air terjun dengan air yang sejuk dan segar, namanya Air Terjun Serendeng. Air terjun ini berada 600 meter dari Candi Cetho, yakni jalan di sebelah kiri sebelum memasuki undakan tertinggi Candi Cetho.


    Perjalanan menuju Air Terjun Serendeng masih berupa jalan tanah dengan sedikit menanjak. Walaupun begitu perjalanan tidak akan terasa karena rindangnya pepohonan dan suara gemericik air dari aliran sungai air terjun. Jalan menuju air terjun ini juga merupakan salah satu rute alternatif para pendaki Gunung Lawu.


    Di air terjun yang tingginya sekitar 8 meter ini pengunjung bisa bermain air sepuasnya karena sangat sepi, jarang sekali pengunjung Candi Cetho mampir ke air terjun ini. Sayangnya pengunjung tidak bisa berenang di bawah air terjun karena tidak terdapat kolam di bawahnya, hanya berupa bebatuan. 


    Untuk menuju ke Air Terjun Srendeng, pengunjung dikenakan biaya lagi sebesar Rp.3.000,- per orang. Selain air terjun, masih ada Sendang Saraswati dan Candi Kethek yang jalannya masih sejalur dengan air terjun ini.
    Continue Reading

    Udara dingin dan kabut tebal menyambutku ketika sampai di Candi Cetho. Tak terasa perjalanan sekitar 40 km dari Solo dengan medan yang berkelok-kelok dan tanjakan akhirnya berakhir. Pemandangan indah selama perjalanan menuju Candi Cetho berupa hamparan Kebun Teh Kemuning yang asri dan hijau mengurangi rasa bosan dan rasa capek di perjalanan. Di Kebun Teh Kemuning tersebut terlihat beberapa ibu-ibu yang sedang memetik daun teh.

    Letak
    Candi Cetho yang merupakan Candi Hindu ini terletak di Lereng Gunung Lawu (1.497 mdpl), tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk menuju lokasi Candi Cetho tidaklah sulit karena sudah ada papan petunjuk jalan, hanya saja kendaraan yang dipakai haruslah dalam kondisi bagus mengingat jalannya berkelok-kelok dan tanjakannya luar biasa. Sampai saat ini Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat ibadah, sehingga saat berkunjung kesini diwajibkan memakai kain kampuh (kain hitam putih yang diikatkan di pinggang seperti sarung), kain ini disediakan pengelola dengan biaya seikhlasnya.


    Sejarah Candi Cetho
    Candi Cetho diperkirakan dibangun pada tahun 1451-1470 atau pada masa Pemerintahan Raja Brawijaya V di Majapahit. Pembangunan candi bertujuan untuk ruwatan/ritual tolak bala karena pada waktu itu banyak terjadi kekacauan. Candi Cetho ditemukan oleh arkeolog Belanda bernama Van de Vlies pada tahun 1842. Pada saat ditemukan hanya berupa reruntuhan batu dengan14 teras/punden berundak, bentuknya memanjang dari barat ke timur. Pada akhir tahun 1970-an dilakukan pemugaran oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Presiden Suharto dan mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan dan pemugaran hanya dilakukan pada sembilan teras saja. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi mengingat pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura di bagian depan komplek candi, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung dan bangunan kubus pada bagian puncak punden. Kemudian dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, Bupati Karanganyar periode 2003-2008 (Rina Iriani) menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar pada bagian timur kompleks candi.

    Kondisi Candi Cetho sekarang
    Saat ini Candi Cetho tinggal 9 punden berundak. Memasuki undakan pertama dan gapura masuk, ada sepasang arca penjaga yang dinamakan Nyai Gemang Arum. Di undakan berikutnya terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho. Di undakan selanjutnya terdapat sebuah batu berbentuk kura-kura yang konon melambangkan penciptaan alam semesta. Di depan batu kura-kura terdapat simbol phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter sebagai simbol penciptaan manusia, dan undakan paling atas merupakan tempat ibadah. Di sebelah kiri sebelum memasuki undakan tertinggi terdapat jalan menuju Sendang Saraswati, Candi Kethek dan Air Terjun Serendeng.








    Tiket Masuk
    Untuk memasuki Komplek Candi Cetho pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp.7.000,- dan parkir motor Rp.2.000,-. Saat memasuki Candi Cetho pengunjung diharuskan mematuhi tata tertib yang ada. Sayangnya saya masih menemui beberapa pengunjung yang merokok, hal ini tentu saja akan mengotori Kompleks Candi Cetho dengan puntung rokok mereka.



    Continue Reading
    Older
    Stories
    Powered by Blogger.

    Find Me

    • facebook
    • instagram
    • youtube

    recent posts

    Labels

    Air Terjun Articles Bantul Coretan Desa Wisata Destinations Gunungkidul Jawa Tengah Jawa Timur Jogja Lain-lain Lampung Others Palembang Sleman Soloraya Sumatra Utara Sunrise Sunset Videos

    Blog Archive

    • June 2020 (3)
    • August 2018 (1)
    • May 2018 (1)
    • October 2017 (2)
    • August 2017 (7)
    • July 2017 (8)
    • June 2017 (8)
    • May 2017 (21)
    • April 2017 (7)
    • April 2016 (2)

    Wonderful Indonesia

    Wonderful Indonesia

    Translate

    facebook instagram Twitter youtube google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top