Solo Traveler

    • Home
    • About
    • Destinations
    • _Jogja
    • _Lampung
    • _Jawa Tengah
    • _Jawa Timur
    • _Lain-lain
    • Others
    • _Videos
    • _Articles

    Menjelajahi potensi alam Kabupaten Bantul serasa tak ada habisnya. Salah satu potensi alam tersebut adalah Air Terjun Lepo yang menyimpan keindahan alam dengan gemericik air berwarna turquoise yang menyejukkan jiwa. Lepo merupakan singkatan dari Ledok Pokoh, ledok berarti tanah cerukan, sedangkan Pokoh adalah nama dusun tempat air terjun ini berada, yakni Dusun Pokoh 1 di Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, sekitar 30 km dari Kota Jogja. Kalau dari Air Terjun Randusari jaraknya hanya sekitar 5 km. Walaupun papan petunjuk menuju air terjun masih minim, lokasinya cukup mudah dijangkau, bisa menggunakan bantuan GPS. Setelah memarkir kendaraan, perjalanan menuju air terjun dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak bersemen sejauh 200 meter diantara rimbunnya pepohonan.

    Air Terjun Lepo terdiri dari 3 tingkatan. Tingkat pertama dengan ketinggian sekitar ½ meter dan terlihat seperti aliran sungai. Pada bagian bawahnya terdapat sebuah kolam dengan kedalaman 1 meter. Air terjun kedua tingginya sekitar 10 meter dan merupakan daya tarik utama destinasi wisata ini. Pada bagian bawahnya terdapat sebuah kolam dengan kedalam sekitar 1 meter. Air terjun ketiga tingginya sekitar 10 meter dengan sebuah kolam dibawahnya. Untuk menuju ke air terjun ketiga ini harus hati-hati karena jalannya curam dan licin.

    Air terjun tingkat kedua dengan ketinggian sekitar 10 meter
    Air terjun tingkat ketiga dengan ketinggian sekitar 10 meter 
    Destinasi wisata yang mulai dikembangkan tahun 2013 ini sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas, diantaranya toilet, mushola dan warung makan. Tidak ada patokan harga untuk retribusi tiket masuk, pengunjung dipersilahkan memberi sumbangan seikhlasnya pada kotak yang telah disediakan, sedangkan untuk parkir motor dikenakan tarif Rp.3.000,-

    Jika berkunjung ke Air Terjun Lepo selain mengabadikan dalam bentuk foto atau video, cobalah untuk merasakan kesejukan airnya, berenang atau hanya sekedar membasuh tangan dan kaki. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan.
    Continue Reading

    Kabupaten Bantul kaya akan wisata alam, namun traveler yang ke Bantul kebanyakan hanya mengunjungi wisata alam Kebun Buah Mangunan dan beberapa hutan pinus yang dikelola Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan. Belum banyak yang tahu kalau di Bantul ada air terjun cantik yang tersembunyi di bawah pohon randu. Air terjun yang berada di Dusun Rejosari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, sekitar 26 km dari Kota Jogja itu bernama Air Terjun Randusari. Nama tersebut diambil dari pohon randu yang berada di sekitar air terjun dan nama dusun tempat air terjun ini berada.

    Perjalanan menuju Air Terjun Randusari lebih enak ditempuh dengan menggunakan motor. Gunakan bantuan GPS karena masih minimnya papan petunjuk menuju Air Terjun Randusari. Parkirkan motor di pekarangan warga dan lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak melewati parit dan sawah. Setelah berjalan sekitar 200 meter, pengunjung akan disambut suara gemuruh air terjun dengan segarnya aliran air yang menuju ke sebuah sungai kecil.

    Air terjun dengan ketinggian sekitar 10 meter ini sekilas seperti air terjun kembar dengan kolam sedalam 3 meter dibawahnya dan beberapa bebatuan besar di sekitarnya. Suasana yang cenderung tidak ramai menjadikan air terjun ini serasa milik pribadi, jika mau bermalas-malasan sambil menikmati air terjun bisa memanfaatkan hammock atau gazebo yang ada.



    Menikmati keindahan Air Terjun Randusari yang serasa milik pribadi
    Air Terjun Randusari masih minim fasilitas, hanya terdapat beberapa gazebo dan tempat sampah. Dengan tiket masuk Rp.1.000,- dan parkir Rp.3.000,-, destinasi wisata alam ini terbilang cukup murah. Jadi jika Anda ingin melepas penat sambil menikmati udara segar dan pemandangan alam yang indah serta suasana yang cenderung tidak ramai, tempat ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata alam alternatif Anda.
    Continue Reading

    Banyak yang tidak tahu kalau di dekat Candi Cetho ada air terjun dengan air yang sejuk dan segar, namanya Air Terjun Serendeng. Air terjun ini berada 600 meter dari Candi Cetho, yakni jalan di sebelah kiri sebelum memasuki undakan tertinggi Candi Cetho.


    Perjalanan menuju Air Terjun Serendeng masih berupa jalan tanah dengan sedikit menanjak. Walaupun begitu perjalanan tidak akan terasa karena rindangnya pepohonan dan suara gemericik air dari aliran sungai air terjun. Jalan menuju air terjun ini juga merupakan salah satu rute alternatif para pendaki Gunung Lawu.


    Di air terjun yang tingginya sekitar 8 meter ini pengunjung bisa bermain air sepuasnya karena sangat sepi, jarang sekali pengunjung Candi Cetho mampir ke air terjun ini. Sayangnya pengunjung tidak bisa berenang di bawah air terjun karena tidak terdapat kolam di bawahnya, hanya berupa bebatuan. 


    Untuk menuju ke Air Terjun Srendeng, pengunjung dikenakan biaya lagi sebesar Rp.3.000,- per orang. Selain air terjun, masih ada Sendang Saraswati dan Candi Kethek yang jalannya masih sejalur dengan air terjun ini.
    Continue Reading

    Goa Selarong dikenal sebagai tempat bersejarah, yakni tempat persembunyian Pangeran Diponegoro. Berlokasi di Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari, Kecamatan Panjangan, Kabupaten Bantul, Kompleks Goa Selarong berada di perbukitan kapur yang ditumbuhi pepohon yang rindang. Untuk mencapai goa pengunjung harus melewati beberapa anak tangga yang curam sejauh 400 meter.

    (Tangga menuju Goa Selarong)
    Secara kasat mata, Goa Selarong terlihat buntu, hanya berupa cekungan. Namun menurut cerita goa ini bisa dimasuki oleh Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya karena di goa ini terdapat sebuah pintu gaib yang kasap mata. Selain goa utama, terdapat 2 goa lain yang menjadi bagian dari Goa Selarong, yaitu Goa Kakung dan Goa Putri.


    Tujuan utama saya kesini memang bukan untuk ke Goa Selarongnya tetapi lebih ke curugnya. Curug Selarong sendiri terletak disebelah Goa Selarong, hanya berjarak beberapa meter saja. Waktu saya kesini curug dengan ketinggian sekitar 20 meter ini debit airnya sangat sedikit, mungkin akan berbeda jika musim hujan. Jalan menuju curug seakan belum dibuat, hanya berupa jalan tanah dan berbatu yang curam dan licin, sayapun sempat terpeleset dan hampir jatuh. Saya juga tidak melihat pengunjung lain berada di sekitar curug ini, mungkin karena debit airnya yang kecil sehingga tidak banyak orang yang tahu akan keberadaan curug ini. Kalau saja pengelola menambahkan papan penunjuk arah menuju ke Curug Selarong, mungkin banyak pengunjung yang akan tertarik untuk sekedar menikmati keindahan dan kesegaran air curug ini.

    Ada berbagai fasilitas yang ada di Kawasan Goa Selarong ini, ada beberapa gazebo berbentuk joglo, arena bermain anak-anak, toilet dan masjid. Di sekitaran Kawasan Goa Selarong juga sudah ada beberapa warung dan beberapa pengasong makanan dan minuman serta buah yang kebanyakan nenek-nenek dan ibu-ibu.



    Karena saya masuknya lewat jalan dan pintu masuk yang “tidak semestinya,” saya tidak mengeluarkan biaya apapun. Flashback perjalanan saya dari Kedung Pengilon, saya menggunakan GPS di smartphone untuk menuju Goa Selarang. Jaraknya sekitar 5 km, saya sempat ragu sewaktu petunjuk di GPS mengharuskan saya belok ke kanan memasuki area hutan. Saya terus memasuki hutan yang jalannya masih berupa tanah yang sebagian berbatu terjal tersebut. Setelah 600 meter akhirnya saya bertemu dengan rombongan komunitas trail yang sedang istirahat di sebuah gazebo. Saya sempat ditertawakan mereka karena berani memasuki hutan sendirian dengan medan yang harusnya buat motor trail. Menurut mereka GPSnya salah, tetapi menurut saya GPS di smartphone saya tidak salah, buktinya saya beneran sampai ke tujuan, cuma tidak melewati pintu masuk yang “tidak semestinya.” Setelah memarkirkan motor di dekat gazebo tersebut, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni tangga yang sedikit basah dan licin sejauh 100 meter untuk menuju Kawasan Goa Selarong.

    Continue Reading

    Curug yang bisa buat bercermin? Sebening apa airnya? Saya mendapatkan informasi destinasi wisata ini dari penjaga parkir di Curug Pulosari. Setelah terlebih dahulu mengunjungi Curug Banyunibo yang tidak jauh dari Curug Pulosari, saya melanjutkan perjalanan ke Kedung Pengilon.


    Setelah menempuh jarak sekitar 5 km, akhirnya saya sampai ke Kedung Pengilon. Kedung Pengilon terletak di Dusun Petung, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Setelah memarkirkan motor, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni anak tangga (yang kayaknya belum lama dibangun). Setelah berjalan sekitar 200 meter diantara hutan jati, terlihat sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 10 meter dengan sebuah kolam berwarna hijau tosca dibawahnya dengan diameter sekitar 15 meter. Dari papan informasi yang ada, kedalaman kolam mencapai 8 meter. Untuk menyeberang ke sisi lain Kedung Pengilon dibangun sebuah jembatan.

    (Papan informasi dan peringatan serta jembatan untuk menyeberang ke sisi lain curug)
    Sewaktu saya datang, saya melihat beberapa pengunjung yang meloncat dan meluncur bebas ke dalam kolam, ada juga yang sekedar duduk-duduk di gazebo sambil menikmati pemandangan air terjun. Adapun asal usul nama Kedung Pengilon berasal dari kolam (kedung) yang airnya sangat jernih sehingga bisa digunakan untuk pengilon (bercermin). Konon terdapat mitos kalau Kedung Pengilon dikuasai oleh ratu ular gaib bernama Nini Blorong yang bermukim di pusaran air di tengah curug. Nini Blorong akan meminta tumbal setiap tahunnya dan mengganggu pengunjung yang jahil. Tak heran kalau selain dikunjungi wisatawan, Kedung Pengilon juga sering didatangi orang-orang yang melakukan ritual kebatinan.



    Berkunjung ke destinasi wisata ini sebaiknya pada musim penghujan dimana debit airnya akan cukup besar, tidak seperti pada saat saya berkunjung, debit airnya kecil. Untuk memasuki Kedung Pengilon pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, hanya dikenakan biaya parkir Rp.2.000,- Di Kedung Pengilon sudah tersedia toilet, kamar ganti dan gazebo, saya tidak melihat warung yang menjajakan makanan dan minuman.
    Continue Reading

    Curug Banyunibo tidak seperti air terjun kebanyakan yang airnya langsung jatuh kebawah dari atas ketinggian, melainkan airnya mengalir melewati lereng berbatu dengan kemiringan sekitar 70 derajat dan tinggi sekitar 10 meter. Airnya jernih kehijauan akibat warna dari lumut yang tumbuh diantara bebatuan. Suasananya sangat tenang dengan udara yang segar, saya tidak menjumpai orang lain di curug ini. Selang beberapa menit kemudian terlihat beberapa anak yang datang untuk mandi dan bermain air di curug ini. Debit air curug tidak banyak, mungkin karena sudah tidak musim hujan.

    Curug ini berada di Dusun Kabrokan Kulon, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, berada tidah jauh dari Curug Pulosari, sekitar 1 km. Saya mengikuti papan petunjuk yang ada dan bertanya kepada warga sekitar agar tidak kesasar. Setelah melewati perkampungan dengan medan jalan berupa cor akhirnya saya sampai tujuan dan memarkirkan kendaraan di rumah warga. Dari tempat parkir saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter melewati jalan yang sedikit menurun.




    Untuk menikmati keindahan curug ini tidak dikenakan retribusi masuk, hanya dikenakan biaya parkir Rp.2.000,-. Belum terlihat fasilitas penunjang di destinasi wisata ini, hanya ada tempat duduk sederhana dan tempat parkir yang masih menggunakan halaman rumah warga.
    Continue Reading

    Curug tapi bentuknya seperti tirai putih, itu informasi awal yang saya dapat dari instagram. Curug ini terletak di Desa Krebet, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, 17 km dari pusat Kota Jogja. Sekedar informasi, Desa Krebet dikenal sebagai sentra wisata kerajinan batik kayu. Batik kayu adalah proses pembatikan pada media kayu, uniknya proses pembatikan sama dengan pada kain, yaitu menggunakan canting. 

    Dengan menggunakan GPS di smartphone saya berangkat menuju curug ini. Di GPS jarak yang tertera sekitar 20 km atau 45 menit. Jalan menuju curug ini terbilang bagus, tetapi begitu sampai di Desa Krebet jalannya agak rusak, sehingga disarankan kalau mau kesini lebih enak dengan menggunakan motor. Setelah memarkirkan motor dan membayar biaya parkir Rp.3.000,- (tidak ada retribusi tiket masuk) saya masih harus berjalan sekitar 200 meter menuruni jalan setapak berbatu yang terjal dan curam. Apabila merasa capek bisa intirahat sejenak di gubug-gubug yang ada di sepanjang jalan menuju curug ini.
     
    (Papan petunjuk menuju curug)
    (Jalan setapak berbatu yang terjal dan curam menuju curug)
    Setelah menyeberang jembatan kayu (yang terlihat agak rapuh), mulai terdengar suara gemericik air terjun diantara asrinya pohon jati. Jika dilihat dari atas, Curug Pulosari kurang begitu bagus, namun begitu turun ke bawah terlihat pemandangan air terjun yang indah seperti tirai putih dengan kolam dibawahnya. Air terjun dengan ketinggian sekitar 5 meter ini airnya sangat jernih, sayang debit airnya tidak banyak. Informasi dari warga air mengalir cukup deras pada waktu musim hujan, bahkan pada musim kemarau curug ini kering.




    Fasilitas yang tersedia antara lain gazebo, tempat duduk dan warung penjaja makanan dan minuman. Sewaktu mau pulang saya membeli sebotol legen (minuman tradisional dari pohon siwalan) seharga Rp.5.000,- untuk sekedar menghilangkan dahaga, sayangnya legennya tidak murni, dicampur dengan air dan gula, tidak seperti legen yang ada di Tuban, Jawa Timur.
    Continue Reading
    Dalam perjalanan pulang ke Solo, saya mampir ke Curug Tegalrejo yang letaknya tidak jauh dari Kabupaten Klaten. Jam 06.13 WIB saya berangkat Jogja. Saya memilih berangkat pagi-pagi untuk menghindari jalanan yang macet dan ramai. Di google map tertulis jarak menuju Curug Tegalrejo 39,9 km dan ditempuh dalam waktu 1 jam 23 menit. 

    Perjalanan menuju Curug Tegalrejo sangat lancar karena jalanan memang belum terlalu ramai. Jam 07.47 WIB saya sampai di tujuan dan sempat bingung karena tempatnya sangat sepi, tempat parkirpun masih tutup. Akhirnya saya bertanya kepada seorang ibu yang kebetulan sedang lewat, kata beliau curug tersebut memang buka agak siang. Saya memutuskan untuk turun lagi dan menitipkan motor di sebuah rumah yang terdekat dari lokasi curug. Rumah terdekat tersebut ternyata rumah Pak RT (ada tulisan Ketua RT 04). Dari rumah Pak RT, saya harus berjalan kaki lagi sekitar 400 meter menuju Curug Tegalrejo.

    Letak
    Curug Tegalrejo terletak di Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Jogja dan berbatasan dengan Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Karena letaknya dekat dengan Kecamatan Bayat, ada beberapa orang yang menyebut curug ini dengan nama Curug Bayat, tetapi anehnya di lokasi curug ini terdapat tulisan Curug Taman Wisata, jadi yang benar namanya apa ya? Untuk mencapai lokasi Anda bisa menggunakan GPS karena tidak tersedia petunjuk untuk menuju tempat ini.

    Potensi
    Potensi curug ini sebenarnya bagus sekali, namun sepertinya belum dikelola secara serius, terlihat dari fasilitas yang belum memadai, tidak ada toilet dan tempat sampah. Saya hanya menjumpai 3 curug dimana setiap curugnya terdapat kolam dengan kedalaman yang bervariasi. 

    Sebelum pulang saya sempat ngobrol dengan Pak RT. Informasi dari beliau total ada 6 curug, tetapi harus menyusuri sungai. Beliau mengatakan tempat ini belum mendapatkan bantuan sama sekali dari pemerintah daerah, makanya pengelolaannya masih seadanya. 

    Untuk mengunjungi curug ini tidak dipunggut tiket masuk, hanya membayar retribusi parkir motor sebesar Rp. 2.000,-, tetapi karena saya kesini kepagian dan belum ada petugas yang datang, saya tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Terima kasih Pak RT, boleh nitip motor dan sudah dikasih informasi.




    Continue Reading

    Ada destinasi wisata alam baru di Kabupaten Karanganyar, namanya Air Terjun Pengantin. Saya mengetahui tempat ini secara tidak sengaja sewaktu mau pulang ke Solo setelah mengunjungi ke Air Terjun Sewawar dan Sedinding.

    Letak
    Air terjun ini terletak di Dusun Banaran, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 43 km dari Kota Solo. Air terjun ini masih satu desa dengan Candi Cetho, kalau dari jalur Kemuning ke Jenawi, Candi Cetho arahnya belok kanan, sedangkan air terjun ini masih lurus sekitar 1 km, nanti akan ada papan penunjuk "Air Terjun Pengantin" yang dibuat seadanya oleh warga. Ikutilah petunjuk yang ada atau tanyalah ke warga karena tempat ini saya cek belum masuk ke google map. Air terjun ini cuma bisa dijangkau dengan  motor karena jalannya sempit.

    Waktu membaca ada papan penunjuk "Air Terjun Pengantin," dalam benak saya air terjunnya pasti berdampingan, tetapi ternyata tidak, antara air terjun yang satu dengan satunya letaknya lumayan jauh, sekitar 1 km. Mas Sularno (salah satu pengelola tempat ini) mengatakan kalau tempat ini dibuka untuk umum baru sekitar sebulan, walaupun masih baru tempat ini sudah dilengkapi dengan tempat parkir dan satu spot foto. Kedepan akan dibangun beberapa spot foto dengan latar belakang perkebunan yang hijau.

    Air Terjun Pengantin Lanang/Laki-laki
    Air Terjun Pengantin Lanang/Laki-laki ini lebih mudah dijangkau, hanya sekitar 100 meter dari tempat parkir dengan jalur yang landai dan sedikit menurun ketika mendekati air terjun. Karena airnya yang bersih dan segar, sumber air dari air terjun ini dimanfaatkan oleh PDAM Kabupaten Sragen sebagai sumber air. Air terjun Pengantin Laki-laki ini terdiri dari beberapa tingkatan yang tidak terlalu tinggi.

    Jalan turun sebelum air terjun Pengantin Lanang
    Air Terjun Pengantin Lanang
    (Perjalanan menuju Air Terjun Pengantin Lanang/Laki-Laki)

    Air Terjun Pengantin Wedok/Perempuan
    Sedangkan Air Terjun Pengantin Wedok/Perempuan letaknya sekitar 1 km dari Air Terjun Lanang. Saya sarankan kalau mau ke Air Terjun Wedok jangan sendirian, karena selain jalan setapaknya yang sempit, licin (di musim hujan) dan ditumbuhi rerumputan yang lebat, masih ada beberapa monyet liar yang saya temui. Saya sebenarnya berniat mengunjungi Air Terjun Pengantin Wedok, tetapi sewaktu ketemu monyet dan bingung jalan mana yg mau diambil (saya cuma menemukan 2 papan petunjuk dan tidak menemukan petunjuk lagi setelah dekat dengan air terjun), saya memutuskan untuk kembali.

    (Petunjuk pertama menuju Air Terjun Pengantin Wedok sebelum masuk ke jalan berupa kebun warga)
    (Jalan menuju Air Terjun Pengantin Wedok melewati perkebunan warga)
    (Petunjuk kedua menuju Air Terjun Pengantin Wedok sebelum memasuki jalan setapak yang berumput lebat)
     (Jalan setapak dengan rerumputan yang lebat)
    (Air Terjun Pengantin Wedok yang saya ambil dari kejauhan sebelum memutuskan untuk kembali)

    Goa Seloumeng
    Selain air terjun, terdapat sebuah goa di tempat ini, namanya Goa Seloumeng. Jaraknya sekitar 500 meter dari tempat parkir dengan jalur berupa tanjakan yang lumayan. Ada bendera atau umbul-umbul sebagai pertanda lokasi goa, karena saya lihat masih jauh dan jalannya yang menanjak, maka saya mengurungkan niat untuk memasuki goa.

    Tiket masuk : Rp. 3.000,- (air terjun dan goa)
    Parkir motor : Rp. 2.000,-
    Continue Reading

    Penasaran gara-gara nonton trailer "Bocah Angon" di youtube yang salah satu pemainnya adalah anak dari teman kantor, saya memutuskan untuk mengunjungi Air Terjun Sewawar dan Sedinding. Pukul 09.30 WIB saya berangkat dari rumah dengan motor sudah full tank dan bantuan google map. Perjalanan mulai terasa agak berat ketika sudah sampai di daerah Kemuning, karena jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Jadi kalau kamu berencana mengunjungi destinasi wisata ini diharapkan menggunakan kendaraan yang "sehat." Setelah menempuh perjalanan 1 jam lebih akhirnya saya sampai ke tempat tujuan, walaupun tadi sempat dibuat bingung ketika jalan yang ditunjukkan oleh google map ditutup karena sedang ada acara nikahan. 

    Letak
    Air Terjun Sewawar dan Sedinding berada di Dukuh Sekarang, Desa Trengguli, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, sekitar 45 km dari Kota Solo. Papan penunjuk menuju air terjun masih sangat minim, saya baru menemui papan petunjuk 2 km sebelum air terjun, kalau mau kesini silahkan menggunakan bantuan google map. Karena jalannya sempit, kendaraan yang bisa masuk sampai mendekati pintu masuk cuma motor, sedangkan mobil bisa diparkir dibawah, 500 meter sebelum pintu masuk. 

    Menurut Pak Narso (pengelola air terjun), tempat ini baru dibuka untuk umum awal tahun 2016, meski begitu tempat ini sudah dilengkapi dengan fasilitas toilet, tempat parkir dan warung makan. Dari tempat parkir, pengunjung masih harus berjalan untuk menuju air terjun. Sekitar 100 meter dari pintu masuk ada warung makan dan persimpangan jalan menuju Air Terjun Sewawar dan Air Terjun Sedinding. 

    (Persimpangan jalan menuju Air Terjun Sedinding dan Sewawar)

    Air Terjun Sedinding
    Saya memilih untuk mengunjungi Air Terjun Sedinding terlebih dahulu yang letaknya lebih jauh, sekitar 700 meter dari persimpangan penunjuk jalan tersebut dengan track berupa tanjakan dengan hamparan kebun milik warga setempat di kanan dan kirinya. Karena jalannya lumayan jauh dan menanjak, saya sempat berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Rasa ngos-ngosan akan terbayar setelah sampai di Air Terjun Sedinding yang tingginya sekitar 8 meter dengan kolam dibawahnya dengan air yang segar dan sejuk. Di dekat air terjun ada sebuah warung makan (tetapi waktu itu sedang tutup) dan sebuah jembatan bambu.

    (Selfie dengan background Air Terjun Sedinding)

    (Air Terjun Sedinding)

    Air Terjun Sewawar
    Puas menikmati dan bermain di Air Terjun Sedinding, saya pun beranjak ke air terjun kembarannya yang terletak dibawahnya dan masih satu aliran sungai, yakni Air Terjun Sewawar. Air Terjun Sewawar letaknya sekitar 100 meter dari persimpangan jalan pintu masuk dengan track yang lebih landai. Air Terjun Sewawar tingginya sekitar 25 meter dengan bebatuan dibawahnya. Waktu saya kesini airnya tidak terlalu banyak, kalau musim penghujan mungkin airnya akan lebih banyak lagi. Di dekat air terjun juga ada sebuah warung makan (waktu itu juga tutup).

    (Air Terjun Sewawar meskipun penuh dengan batu besar dibawahnya, pengunjung masih bisa bermain air)

    (Mahasiswa dari Solo yang juga tertarik untuk berkunjung ke air terjun)

    Saat berpamitan dan cerita ke Pak Narso kalau trailer "Bocah Angon" sudah ada di youtube, tampak wajah bangga dan gembira dari beliau. Saat menemukan filmnya di youtube, dengan penasaran dan antusias Pak Narso dan rekan-rekan menonton trailer film "Bocah Angon" tersebut.

    Tiket Masuk  : Rp. 4.000,-
    Parkir Motor : Rp. 2.000,-

    (Video perjalanan menuju Air Terjun Sewawar dan Sedinding)

    Continue Reading
    Older
    Stories
    Powered by Blogger.

    Find Me

    • facebook
    • instagram
    • youtube

    recent posts

    Labels

    Air Terjun Articles Bantul Coretan Desa Wisata Destinations Gunungkidul Jawa Tengah Jawa Timur Jogja Lain-lain Lampung Others Palembang Sleman Soloraya Sumatra Utara Sunrise Sunset Videos

    Blog Archive

    • June 2020 (3)
    • August 2018 (1)
    • May 2018 (1)
    • October 2017 (2)
    • August 2017 (7)
    • July 2017 (8)
    • June 2017 (8)
    • May 2017 (21)
    • April 2017 (7)
    • April 2016 (2)

    Wonderful Indonesia

    Wonderful Indonesia

    Translate

    facebook instagram Twitter youtube google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top