Solo Traveler

    • Home
    • About
    • Destinations
    • _Jogja
    • _Lampung
    • _Jawa Tengah
    • _Jawa Timur
    • _Lain-lain
    • Others
    • _Videos
    • _Articles


    Solo Batik Carnival sudah diselenggarakan selama satu dekade, namun demikian sebagai orang Solo, baru tahun ini saya bisa melihat acara Solo Batik Carnival secara langsung. Solo Batik Carnival atau yang lebih dikenal dengan SBC terinspirasi dari Jember Fashion Carnaval (JFC) dan menjadi event tahunan di Kota Solo. Wali Kota Solo waktu itu, Joko Widodo secara khusus mengundang Presiden JFC (Dynand Fariz) untuk menggarap acara serupa di Kota Solo namun dengan tema batik. 

    Sebelumnya mari flashback sejenak untuk mengingat penyelenggaraan SBC dari awal :
    SBC pertama digelar pada tanggal 13 April 2008 dengan tema Wayang dan diikuti oleh sekitar 250 peserta yang diawali oleh Jember Fashion Carnaval kemudian disusul peserta dari Solo. Karnaval dibuka oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dengan rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Purwosari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC kedua digelar pada tanggal 28 Juni 2009 dengan tema Topeng dan diikuti oleh sekitar 300 peserta yang menyuguhkan tiga jenis topeng tradisional, yaitu Panji (melambangkan raja atau ratu), Kelana (melambangkan kesatria atau raksasa), dan Gecul (melambangkan Punakawan atau hamba sahaya). Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Purwosari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC ketiga digelar pada tanggal 23 Juni 2010 dengan tema Sekar Jagad dan diikuti oleh sekitar 300 peserta. Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Solo Center Point (SCP) Purwosari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC keempat digelar pada tanggal 25 Juni 2011 dengan tema Keajaiban Legenda dan diikuti oleh sekitar 325 peserta yang dibagi menjadi empat kelompok, Andhe-Andhe Lumut, Roro Jongrang, Ratu Pantai Selatan dan Ratu Kencana Wungu. Berbeda dari SBC sebelumnya, SBC keempat dilaksanakan pada malam hari dengan diterangi lampu di 10 titik di sepanjang Jalan Slamet Riyadi mulai dari Solo Center Point (SCP) sampai dengan Balai Kota Solo. Selain itu tampil peserta khusus yaitu empat Puteri Indonesia, Nadine Alexandra Dewi (Puteri Indonesia), Inda Adeliani (Puteri Intelegensia), Alessandra K Usman (Puteri Pariwisata) dan Reisa Kartikasari (Puteri Lingkungan).

    SBC kelima juga digelar pada malam hari pada tanggal 30 Juni 2012 dengan tema Metamorfosis dan diikuti oleh sekitar 325 peserta dengan rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Balai Kota Solo. Tema ini menggambarkan tahap-tahap pembatikan mulai dari pengerjaan pola motif pada kain, menggambar dengan malam, pewarnaan dan penghilangan malam.

    SBC keenam digelar pada tanggal 29 Juni 2013 dengan tema Earth to earth yang mencerminkan 4 elemen dasar bumi yaitu air, udara (angin), api dan tanah (bumi) dan diikuti oleh sekitar 143 peserta. SBC tahun 2013 digelar sore hari dengan rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Solo Center Point (SCP) Purwosari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC ketujuh digelar pada tanggal 22 Juni 2014  dengan tema Majestic Treasure dan diikuti oleh sekitar 725 orang dengan peserta tamu dari Kalimantan Timur. Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC kedelapan digelar pada tanggal 13 Juni 2015 dengan tema Mancavarna dan diikuti oleh 600 sekitar peserta. Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Balai Kota Solo.

    SBC kesembilan digelar pada tanggal 24 Juli 2016 dengan tema Mustika Jawa Dwipa dan diikuti oleh sekitar 300 peserta. Rute menyusuri Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Balai Kota Solo. Pada SBC ke-9 ini akan diberikan costume award kepada 8 peserta dengan kostum terbaaik.
    Tahun ini SBC yang kesepuluh mengusung tema Astamurti Kawijayan. Dalam Bahasa Kawi, Astamurti berarti bentuk dan Kawijayan berarti Kejayaan, sehingga Astamurti Kawijayan dapat diartikan sebagai wujud kejayaan tradisi budaya jawa yang berupa karya seni yang berasal dari nenek moyang tanah jawa. Ada enam jenis kostum dalam SBC tahun ini dimana kostum tersebut merupakan tema yang pernah diangkat dari SBC tahun sebelumnya dalam satu dekade ini antara lain Wayang, Topeng, Sekar Jagad, Mustika Jawa Dwipa, Legenda dan Jatayu (sebagai maskotnya). Kostum kreasi Jatayu tersebut dikenakan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo.


     
    Rute karnaval menempuh jarak sekitar 3 km menyusuri Jalan Slamet Riyadi, berawal dari Stadion Sriwedari dan berakhir di Benteng Vasternburg. SBC tahun ini diikuti oleh sekitar 450 peserta dan turut diramaikan oleh Jember Fashion Carnaval, Gilang Ramadhan Studio, Peni Chandra Rini, The Caruban Carnival, Miss Global Indonesia, Mister Teen International 2016 dan Mister Teen Jateng 2017. 












    Seorang warga sedang mengabadikan moment Solo Batik Carnival
    Wisatawan asing yang datang untuk menyaksikan Solo Batik Carnival

    Saya salut dan bangga dengan Pemerintah Kota Solo yang telah sukses menyelenggarakan SBC. Dari awal sebelum acara dimulai, saya melihat sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya temui ketika menyaksikan acara pawai budaya/karnaval.
    • 2 jam sebelum acara dimulai, rute yang akan dilewati oleh peserta karnaval sudah steril dari kendaraan (walaupun masih ada beberapa pengendara yang terjebak di dalam area karnaval dan bingung mau keluar).
    • 1 jam sebelum acara dimulai ada mobil dari Dinas Kominfo Kota Solo dengan pengeras suara menghimbau kepada masyarakat yang menonton SBC untuk tertib dan tidak mengajak peserta karnaval untuk berfoto selfie.
    • Jalan yang akan dilewati peserta karnaval  disiram air terlebih dahulu oleh mobil pemadam kebakaran  agar tidak panas.
    • Waktu acara dimulai sampai acara selesai pun masyarakat yang menonton tetap tertib dan mudah diatur oleh panitia untuk mundur dan memberi jalan kepada peserta karnaval yang akan lewat.
    Provinsi, kota dan kabupaten lain yang mengadakan karnaval atau pawai budaya semoga bisa mencontoh dari penyelenggaraan SBC ini.

    Mobil Pemadam Kebakaran yang menyirami jalan sebelum acara dimulai

    Semoga dengan SBC akan semakin memperkuat Kota Solo sebagai kota budaya yang kreatif dan dapat melestarikan batik sebagai kekayaan budaya Indonesia.
    Continue Reading
    Banyak orang menyebut Candi Sukuh sebagai candi porno karena penggambaran alat kelamin manusia pada patung dan reliefnya. Candi Hindu ini terletak di bagian barat lereng Gunung Lawu pada ketinggian 900 mdpl, tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sekitar 30 km dari Kota Solo atau sekitar 15 km dari Candi Cetho. Candi Sukuh menghadap ke arah barat, berbeda dengan kebanyakan candi Hindu lainnya yang menghadap ke arah timur (terbitnya matahari).



    Menurut sejarah Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-15 Masehi dan ditemukan kembali oleh Johnson pada masa pemerintahan Britania Raya tahun 1815. Candi Sukuh pun terus menjadi obyek penelitian oleh Van der Vlis pada tahun 1942, Hoepermanans tahun 1864 – 1967, Verbeek tahun 1889 dan WF. Stutterheim dan Knebel di tahun 1910.

    Candi Hindu dengan luas 5.500 m² ini terdiri dari 3 teras. Teras pertama ditandai dengan gapura beratap (gapura paduraksa) dengan relief raksasa memakan orang di sebelah kanan dan raksasa memakan naga di sebelah kiri. Relief tersebut menggambarkan tahun selesainya pembangunan gapura ini. Pada pintu atas gapura terdapat hiasan arca (kalamakara), sedang pada lantai gapura terdapat relief alat kelamin wanita (lingga) dan alat kelamin pria (yoni) yang bersentuhan/berhubungan sebagai lambang kesuburan. Ini menjadi salah satu alasan mengapa candi ini dianggap candi porno. Saat ini lorong gapura diberi pagar sehingga tidak bisa dilalui.


    (Kalamakara di pintu atas gapura teras pertama)
    (Salah satu relief di Candi Sukuh)
    (Pemandangan dari teras pertama Candi Sukuh)
    Pada teras kedua tidak dijumpai adanya patung, hanya terdapat gapura bentar tanpa atap yang kondisnya sudah rusak. Naik ke teras ketiga terdapat pelataran besar dengan candi induk yang dihiasi beberapa relief di sebelah kiri dan beberapa patung di sebelah kanan. Tepat di atas candi utama terdapat tempat menaruh sesaji. Untuk naik ke atas candi pengunjung harus menaiki tangga yang relatif tinggi dengan lorong yang sempit.


    Pemandangan dari atas candi induk
    (Tangga dan lorong sempit untuk naik atas candi induk)
    (Tempat sesaji dan dupa di atas candi induk)


    Yang unik dan menarik dari Candi Sukuh selain bentuknya yang menyerupai piramida adalah konon tempat ini sering digunakan untuk uji kesetiaan dan uji keperawanan/keperjakaan. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp.3.000,- dan parkir motor Rp.2.000,- serta sewa kain kampuh dengan biaya seikhlasnya, pengunjung bisa menyusuri tiap sudut Candi Sukuh dan membuktkan mitos yang ada tersebut.
    Continue Reading

    Banyak yang tidak tahu kalau di dekat Candi Cetho ada air terjun dengan air yang sejuk dan segar, namanya Air Terjun Serendeng. Air terjun ini berada 600 meter dari Candi Cetho, yakni jalan di sebelah kiri sebelum memasuki undakan tertinggi Candi Cetho.


    Perjalanan menuju Air Terjun Serendeng masih berupa jalan tanah dengan sedikit menanjak. Walaupun begitu perjalanan tidak akan terasa karena rindangnya pepohonan dan suara gemericik air dari aliran sungai air terjun. Jalan menuju air terjun ini juga merupakan salah satu rute alternatif para pendaki Gunung Lawu.


    Di air terjun yang tingginya sekitar 8 meter ini pengunjung bisa bermain air sepuasnya karena sangat sepi, jarang sekali pengunjung Candi Cetho mampir ke air terjun ini. Sayangnya pengunjung tidak bisa berenang di bawah air terjun karena tidak terdapat kolam di bawahnya, hanya berupa bebatuan. 


    Untuk menuju ke Air Terjun Srendeng, pengunjung dikenakan biaya lagi sebesar Rp.3.000,- per orang. Selain air terjun, masih ada Sendang Saraswati dan Candi Kethek yang jalannya masih sejalur dengan air terjun ini.
    Continue Reading

    Udara dingin dan kabut tebal menyambutku ketika sampai di Candi Cetho. Tak terasa perjalanan sekitar 40 km dari Solo dengan medan yang berkelok-kelok dan tanjakan akhirnya berakhir. Pemandangan indah selama perjalanan menuju Candi Cetho berupa hamparan Kebun Teh Kemuning yang asri dan hijau mengurangi rasa bosan dan rasa capek di perjalanan. Di Kebun Teh Kemuning tersebut terlihat beberapa ibu-ibu yang sedang memetik daun teh.

    Letak
    Candi Cetho yang merupakan Candi Hindu ini terletak di Lereng Gunung Lawu (1.497 mdpl), tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk menuju lokasi Candi Cetho tidaklah sulit karena sudah ada papan petunjuk jalan, hanya saja kendaraan yang dipakai haruslah dalam kondisi bagus mengingat jalannya berkelok-kelok dan tanjakannya luar biasa. Sampai saat ini Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat ibadah, sehingga saat berkunjung kesini diwajibkan memakai kain kampuh (kain hitam putih yang diikatkan di pinggang seperti sarung), kain ini disediakan pengelola dengan biaya seikhlasnya.


    Sejarah Candi Cetho
    Candi Cetho diperkirakan dibangun pada tahun 1451-1470 atau pada masa Pemerintahan Raja Brawijaya V di Majapahit. Pembangunan candi bertujuan untuk ruwatan/ritual tolak bala karena pada waktu itu banyak terjadi kekacauan. Candi Cetho ditemukan oleh arkeolog Belanda bernama Van de Vlies pada tahun 1842. Pada saat ditemukan hanya berupa reruntuhan batu dengan14 teras/punden berundak, bentuknya memanjang dari barat ke timur. Pada akhir tahun 1970-an dilakukan pemugaran oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Presiden Suharto dan mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan dan pemugaran hanya dilakukan pada sembilan teras saja. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi mengingat pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura di bagian depan komplek candi, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung dan bangunan kubus pada bagian puncak punden. Kemudian dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, Bupati Karanganyar periode 2003-2008 (Rina Iriani) menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar pada bagian timur kompleks candi.

    Kondisi Candi Cetho sekarang
    Saat ini Candi Cetho tinggal 9 punden berundak. Memasuki undakan pertama dan gapura masuk, ada sepasang arca penjaga yang dinamakan Nyai Gemang Arum. Di undakan berikutnya terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho. Di undakan selanjutnya terdapat sebuah batu berbentuk kura-kura yang konon melambangkan penciptaan alam semesta. Di depan batu kura-kura terdapat simbol phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter sebagai simbol penciptaan manusia, dan undakan paling atas merupakan tempat ibadah. Di sebelah kiri sebelum memasuki undakan tertinggi terdapat jalan menuju Sendang Saraswati, Candi Kethek dan Air Terjun Serendeng.








    Tiket Masuk
    Untuk memasuki Komplek Candi Cetho pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp.7.000,- dan parkir motor Rp.2.000,-. Saat memasuki Candi Cetho pengunjung diharuskan mematuhi tata tertib yang ada. Sayangnya saya masih menemui beberapa pengunjung yang merokok, hal ini tentu saja akan mengotori Kompleks Candi Cetho dengan puntung rokok mereka.



    Continue Reading

    Ada destinasi wisata alam baru di Kabupaten Karanganyar, namanya Air Terjun Pengantin. Saya mengetahui tempat ini secara tidak sengaja sewaktu mau pulang ke Solo setelah mengunjungi ke Air Terjun Sewawar dan Sedinding.

    Letak
    Air terjun ini terletak di Dusun Banaran, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 43 km dari Kota Solo. Air terjun ini masih satu desa dengan Candi Cetho, kalau dari jalur Kemuning ke Jenawi, Candi Cetho arahnya belok kanan, sedangkan air terjun ini masih lurus sekitar 1 km, nanti akan ada papan penunjuk "Air Terjun Pengantin" yang dibuat seadanya oleh warga. Ikutilah petunjuk yang ada atau tanyalah ke warga karena tempat ini saya cek belum masuk ke google map. Air terjun ini cuma bisa dijangkau dengan  motor karena jalannya sempit.

    Waktu membaca ada papan penunjuk "Air Terjun Pengantin," dalam benak saya air terjunnya pasti berdampingan, tetapi ternyata tidak, antara air terjun yang satu dengan satunya letaknya lumayan jauh, sekitar 1 km. Mas Sularno (salah satu pengelola tempat ini) mengatakan kalau tempat ini dibuka untuk umum baru sekitar sebulan, walaupun masih baru tempat ini sudah dilengkapi dengan tempat parkir dan satu spot foto. Kedepan akan dibangun beberapa spot foto dengan latar belakang perkebunan yang hijau.

    Air Terjun Pengantin Lanang/Laki-laki
    Air Terjun Pengantin Lanang/Laki-laki ini lebih mudah dijangkau, hanya sekitar 100 meter dari tempat parkir dengan jalur yang landai dan sedikit menurun ketika mendekati air terjun. Karena airnya yang bersih dan segar, sumber air dari air terjun ini dimanfaatkan oleh PDAM Kabupaten Sragen sebagai sumber air. Air terjun Pengantin Laki-laki ini terdiri dari beberapa tingkatan yang tidak terlalu tinggi.

    Jalan turun sebelum air terjun Pengantin Lanang
    Air Terjun Pengantin Lanang
    (Perjalanan menuju Air Terjun Pengantin Lanang/Laki-Laki)

    Air Terjun Pengantin Wedok/Perempuan
    Sedangkan Air Terjun Pengantin Wedok/Perempuan letaknya sekitar 1 km dari Air Terjun Lanang. Saya sarankan kalau mau ke Air Terjun Wedok jangan sendirian, karena selain jalan setapaknya yang sempit, licin (di musim hujan) dan ditumbuhi rerumputan yang lebat, masih ada beberapa monyet liar yang saya temui. Saya sebenarnya berniat mengunjungi Air Terjun Pengantin Wedok, tetapi sewaktu ketemu monyet dan bingung jalan mana yg mau diambil (saya cuma menemukan 2 papan petunjuk dan tidak menemukan petunjuk lagi setelah dekat dengan air terjun), saya memutuskan untuk kembali.

    (Petunjuk pertama menuju Air Terjun Pengantin Wedok sebelum masuk ke jalan berupa kebun warga)
    (Jalan menuju Air Terjun Pengantin Wedok melewati perkebunan warga)
    (Petunjuk kedua menuju Air Terjun Pengantin Wedok sebelum memasuki jalan setapak yang berumput lebat)
     (Jalan setapak dengan rerumputan yang lebat)
    (Air Terjun Pengantin Wedok yang saya ambil dari kejauhan sebelum memutuskan untuk kembali)

    Goa Seloumeng
    Selain air terjun, terdapat sebuah goa di tempat ini, namanya Goa Seloumeng. Jaraknya sekitar 500 meter dari tempat parkir dengan jalur berupa tanjakan yang lumayan. Ada bendera atau umbul-umbul sebagai pertanda lokasi goa, karena saya lihat masih jauh dan jalannya yang menanjak, maka saya mengurungkan niat untuk memasuki goa.

    Tiket masuk : Rp. 3.000,- (air terjun dan goa)
    Parkir motor : Rp. 2.000,-
    Continue Reading

    Penasaran gara-gara nonton trailer "Bocah Angon" di youtube yang salah satu pemainnya adalah anak dari teman kantor, saya memutuskan untuk mengunjungi Air Terjun Sewawar dan Sedinding. Pukul 09.30 WIB saya berangkat dari rumah dengan motor sudah full tank dan bantuan google map. Perjalanan mulai terasa agak berat ketika sudah sampai di daerah Kemuning, karena jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Jadi kalau kamu berencana mengunjungi destinasi wisata ini diharapkan menggunakan kendaraan yang "sehat." Setelah menempuh perjalanan 1 jam lebih akhirnya saya sampai ke tempat tujuan, walaupun tadi sempat dibuat bingung ketika jalan yang ditunjukkan oleh google map ditutup karena sedang ada acara nikahan. 

    Letak
    Air Terjun Sewawar dan Sedinding berada di Dukuh Sekarang, Desa Trengguli, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, sekitar 45 km dari Kota Solo. Papan penunjuk menuju air terjun masih sangat minim, saya baru menemui papan petunjuk 2 km sebelum air terjun, kalau mau kesini silahkan menggunakan bantuan google map. Karena jalannya sempit, kendaraan yang bisa masuk sampai mendekati pintu masuk cuma motor, sedangkan mobil bisa diparkir dibawah, 500 meter sebelum pintu masuk. 

    Menurut Pak Narso (pengelola air terjun), tempat ini baru dibuka untuk umum awal tahun 2016, meski begitu tempat ini sudah dilengkapi dengan fasilitas toilet, tempat parkir dan warung makan. Dari tempat parkir, pengunjung masih harus berjalan untuk menuju air terjun. Sekitar 100 meter dari pintu masuk ada warung makan dan persimpangan jalan menuju Air Terjun Sewawar dan Air Terjun Sedinding. 

    (Persimpangan jalan menuju Air Terjun Sedinding dan Sewawar)

    Air Terjun Sedinding
    Saya memilih untuk mengunjungi Air Terjun Sedinding terlebih dahulu yang letaknya lebih jauh, sekitar 700 meter dari persimpangan penunjuk jalan tersebut dengan track berupa tanjakan dengan hamparan kebun milik warga setempat di kanan dan kirinya. Karena jalannya lumayan jauh dan menanjak, saya sempat berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Rasa ngos-ngosan akan terbayar setelah sampai di Air Terjun Sedinding yang tingginya sekitar 8 meter dengan kolam dibawahnya dengan air yang segar dan sejuk. Di dekat air terjun ada sebuah warung makan (tetapi waktu itu sedang tutup) dan sebuah jembatan bambu.

    (Selfie dengan background Air Terjun Sedinding)

    (Air Terjun Sedinding)

    Air Terjun Sewawar
    Puas menikmati dan bermain di Air Terjun Sedinding, saya pun beranjak ke air terjun kembarannya yang terletak dibawahnya dan masih satu aliran sungai, yakni Air Terjun Sewawar. Air Terjun Sewawar letaknya sekitar 100 meter dari persimpangan jalan pintu masuk dengan track yang lebih landai. Air Terjun Sewawar tingginya sekitar 25 meter dengan bebatuan dibawahnya. Waktu saya kesini airnya tidak terlalu banyak, kalau musim penghujan mungkin airnya akan lebih banyak lagi. Di dekat air terjun juga ada sebuah warung makan (waktu itu juga tutup).

    (Air Terjun Sewawar meskipun penuh dengan batu besar dibawahnya, pengunjung masih bisa bermain air)

    (Mahasiswa dari Solo yang juga tertarik untuk berkunjung ke air terjun)

    Saat berpamitan dan cerita ke Pak Narso kalau trailer "Bocah Angon" sudah ada di youtube, tampak wajah bangga dan gembira dari beliau. Saat menemukan filmnya di youtube, dengan penasaran dan antusias Pak Narso dan rekan-rekan menonton trailer film "Bocah Angon" tersebut.

    Tiket Masuk  : Rp. 4.000,-
    Parkir Motor : Rp. 2.000,-

    (Video perjalanan menuju Air Terjun Sewawar dan Sedinding)

    Continue Reading
    Older
    Stories
    Powered by Blogger.

    Find Me

    • facebook
    • instagram
    • youtube

    recent posts

    Labels

    Air Terjun Articles Bantul Coretan Desa Wisata Destinations Gunungkidul Jawa Tengah Jawa Timur Jogja Lain-lain Lampung Others Palembang Sleman Soloraya Sumatra Utara Sunrise Sunset Videos

    Blog Archive

    • June 2020 (3)
    • August 2018 (1)
    • May 2018 (1)
    • October 2017 (2)
    • August 2017 (7)
    • July 2017 (8)
    • June 2017 (8)
    • May 2017 (21)
    • April 2017 (7)
    • April 2016 (2)

    Wonderful Indonesia

    Wonderful Indonesia

    Translate

    facebook instagram Twitter youtube google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top