Solo Traveler

    • Home
    • About
    • Destinations
    • _Jogja
    • _Lampung
    • _Jawa Tengah
    • _Jawa Timur
    • _Lain-lain
    • Others
    • _Videos
    • _Articles

    Pulau Kemaro, delta di Sungai Musi yang terletak 6 km dari Jembatan Ampera. Penasaran dengan Pulau Kemaro saya pun mencari informasi cara untuk mengunjunginya. Saya diarahkan pergi ke sebuah dermaga di depan Benteng Kuto Besak. Terdapat banyak penyewaan perahu di dermaga tersebut, ada perahu tongkang, perahu ketek dan speedboat. Karena harga sewa yang menurut saya lumayan mahal, saya pun berusaha mencari orang yang punya tujuan sama ke Pulau Kemaro. Setelah berkeliling di sekitaran Benteng Kuto Besak, saya tidak mendapatkan teman juga, akhirnya saya pun menyewa kapal ketek sendiri setelah menawar harga sewa dari Rp.300.000,- menjadi Rp.200.000,-. Perjalanan menuju Pulau Kemaro ditempuh sekitar 30 menit melewati kawasan industri Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina.

    (Kapal ketek, salah satu transportasi untuk menuju Pulau Kemaro)

    (Perjalanan menuju Pulau Kemaro melewati kawasan industri Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina
    dengan kapal-kapal besar yang mengelilinginya)

    Begitu menginjakkan kaki ke pulau dan melewati pintu gerbang yang syarat dengan ornamen cina, saya melihat sebuah batu (prasasti buatan) di samping sbuah klenteng yang menceritakan legenda asal usul Pulau Kemaro. Menurut legenda pada zaman dahulu ada seorang saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An datang ke Palembang untuk berdagang. Ketika ia meminta izin ke Raja Palembang, ia bertemu dengan putri raja yang bernama Siti Fatimah. Ia langsung jatuh hati, begitu juga dengan Siti Fatimah. Mereka pun menjalin kasih dan berniat untuk ke pelaminan. Tan Bun An mengajak sang Siti Fatimah ke daratan Cina untuk diperkenalkan dengan orang tua Tan Bun Han. Setelah beberapa waktu, mereka kembali ke Palembang. Orang tua Tan Bun Han Bersama menghadiahi tujuh guci yang berisi emas untuk dibawa ke Palembang. Sesampai di muara Sungai Musi Tan Bun han ingin melihat hadiah emas di dalam guci tersebut. Tetapi alangkah kagetnya karena yang dilihat adalah sayuran sawi-sawi asin. Tanpa berpikir panjang ia membuang guci-guci tersebut kelaut, tetapi guci terakhir terjatuh diatas dek dan pecah. Ternyata didalamnya terdapat emas. Tan Bun Hanpun langsung terjun ke dalam sungai untuk mengambil emas-emas dalam guci yang sudah dibuangnya tersebut. Seorang pengawalnya juga ikut terjun untuk membantu, tetapi kedua orang itu tidak kunjung muncul, akhirnya Siti Fatimah memutuskan untuk menyusul dan terjun ke Sungai Musi untuk menolong. Sebelum terjun ke sungai sang putri berpesan jika ada tumpukan tanah di tepian sungai ini berarti itu kuburannya. Setelah ditunggu beberapa lama ketiganya tidak kunjung muncul.






    Beberapa hari setelah peristiwa tersebut muncul tumpukan tanah di tepian sungai, lama kelamaan tumpukan tersebut semakin membesar dan menjadi sebuah pulau. Nama Kemaro adalah bahasa lokal yang dapat diartikan dengan dengan kemarau. Menurut penduduk tepian Sungai Musi, pulau ini tidak pernah pernah digenangi air meskipun volume air Sungai Musi sedang meningkat. Untuk mengenang mereka bertiga dibangunlah sebuah kuil dan makam untuk ketiga orang tersebut.

    Di Pulau Kemaro terdapat sebuah Klenteng Hok Tjing Rio atau lebih dikenal Klenteng Kuan Im yang dibangun sejak tahun 1962. Di depan klenteng terdapat makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Klenteng ini selalu dikunjungi penganutnya terutama pada perayaan Cap Go Meh. Selain klenteng, di pulau ini terdapat bangunan Pagoda berlantai 9 yang menjulang ditengah-tengah pulau. Dibandingkan dengan klenteng, bangunan Pagoda terbilang bangunan baru yang didirikan tahun 2006. Klenteng dan pagoda ini lah yang menjadi objek wisata utama di pulau ini. 





    Continue Reading
    Sejarah Palembang tidak terpisahkan dengan Laksamana Cheng Ho yang berasal dari Provinsi Yunan dan merupakan orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok, kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama asli Cheng Ho adalah Ma He dan dikenal juga dengan sebutan Ma Sanbao. Sejak melakukan pelayaran mengelilingi dunia, Laksamana  Cheng Ho pernah 4 kali datang ke Palembang. Tujuannya datang ke Indonesia khususnya Palembang adalah untuk menyebarkan agama Islam dan membantu Kerajaan Sriwijaya menumpas perampok yang berasal dari Tionghoa Hokkian. Laksamana Cheng Ho kemudian membangun kelompok masyarakat Islam Tionghoa di Palembang.


    Untuk menjaga hubungan baik antara masyarakat keturunan Tionghoa dengan masyarakat Palembang dan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok Laksamana Cheng Ho, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) membangun sebuah masjid. Masjid yang terletak di Jakabaring Palembang ini bernama lengkap Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho atau biasa disebut Masjid Cheng Ho dan dibangun di atas tanah seluas 4.990 m². Masjid yang didirikan dengan gaya arsitektur Cina, Arab dan Palembang ini didominasi oleh warna merah dan hijau, warna yang identik dengan kebudayaan Tionghoa. Bagian dalam masjid juga didominanasi warna merah. Arsitektur Tionghoa juga terlihat dari daun pintu pintu utama masjid. Masjid Cheng Ho terdiri dari dua lantai dan mampu menampung sekitar 500 jemaah. Lantai pertama digunakan untuk jamaah laki-laki, sedangkan lantai dua digunakan untuk jamaah wanita. 


    Masjid Cheng Ho dilengkapi dengan dua menara yang diberi nama Habluminallah dan Hambluminannas. Menara masjid tersebut didesain seperti bentuk pagoda dengan cat warna merah dan hijau. Kedua menara Masjid Cheng Ho memiliki 5 tingkat yang melambangkan jumlah 5 waktu shalat wajib dalam sehari, sedangkan menara setinggi 17 meter merupakan simbol dari jumlah rakaat sholat wajib dalam sehari. Di bagian luar menara terdapat ornamen khas Palembang berupa tanduk kambing sebagai simbol adanya kedekatan antara kebudayaan Palembang dengan kebudayaan Tionghoa. Saat ini Masjid Cheng Ho tidak sekadar sebagai tempat beribadah, tetapi digunakan juga sebagai tempat menghelat acara keagamaan dan kemasyarakatan. 
    Continue Reading

    Berkunjung ke Palembang tidak lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Jembatan Ampera. Jembatan ini menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Sungai yang panjangnya mencapai 750 km dan lebar 500 meter ini merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatra dan memiliki delapan anak sungai besar (Sungai Komering, Sungai Leko, Sungai Rawas, Sungai Lakitan, Sungai Kelingi, Sungai Lematang, Sungai Semangus dan Sungai Ogan).
    Pembangunan jembatan dimulai pada tahun 1962 setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Semua biaya pembangunan jembatan diambil dari dana rampasan perang jepang. Pada tahun 1965 jembatan diresmikan dan diberi nama Jembatan Bung Karno sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden Soekarno yang telah memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi. Pada saat itu Jembatan Ampera adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara dengan panjang 1.117 meter dan lebar 22 meter. Pada tahun 1966 muncul gerakan anti-Soekarno, nama jembatan kemudian diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera tetapi usulan tersebut tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan masyarakat setempat.
    Pada awalnya bagian tengah jembatan bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Dengan alasan mengganggu arus lalu lintas diatasnya pada saat pengangkatan jembatan, kegiatan pengangkatan bagian tengah jembatan tersebut dihentikan pada tahun 1970. Kemudian pada tahun 1990 kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini. Sampai saat ini, warna Jembatan Ampera sudah berubah 3 kali. Pada awal berdirinya tahun 1965 jembatan ini berwarna abu-abu, kemudian tahun 1992 berganti warna kuning dan terakhir di tahun 2002 menjadi merah sampai sekarang. 








    Jembatan Ampera akan terlihat lebih indah pada waktu malam hari karena menggunakan lampu dengan teknik pencahayaan yang dapat berubah-ubah. Sungai Musi yang berada di bawah Jematan Ampera akan lebih ramai lagi pada waktu ada gelaran Musi Triboatton (kombinasi perlombaan arung jeram, kayak dan perahu naga). Untuk berkunjung ke Jembatan Ampera dan ke Sungai Musi tidak dikenakan biaya.



    Continue Reading

    Bisa bekerja sambil liburan atau jalan-jalan menjadi keinginan banyak orang, termasuk saya. Alhamdulillah saya termasuk orang yang beruntung karena bisa bekerja sambil liburan (dengan cara memanfaatkan waktu luang pada saat bekerja di luar kota dengan jalan-jalan dan menyegarkan pikiran). 

    Ketika mendapatkan surat tugas dari kantor untuk keluar kota, saya selalu curious terhadap kota yang akan saya datangi, sehingga sebelum berangkat saya selalu mencari informasi tentang hal apa saja yang menarik dan bisa saya explore di kota tersebut. 

    Salah satu strategi yang saya lakukan agar bisa bekerja sambil liburan adalah saya tidak pernah membawa tas koper saat bepergian, karena hal tersebut dapat merepotkan saya, jadi saya hanya membawa backpack. Sebisa mungkin semua barang keperluan selama bepergian bisa masuk ke dalam backpack, termasuk laptop sebagai alat penunjang pekerjaan saya. Barang lain yang wajib saya bawa dan tidak pernah ketinggalan adalah smartphone dengan paket data yang cukup dan tentu saja kamera. 

    Satu hal yang harus saya pegang adalah saya tidak boleh lepas tanggung jawab terhadap pekerjaan. Namun kadang ada saja kendala yang saya hadapi ketika sampai di kota tujuan, misalnya lemahnya atau bahkan tidak adanya koneksi internetnya. Solusinya tentu saja pekerjaan tersebut diselesaikan ketika berada di bandara yang sudah pasti jaringan internet tersedia. Kerja sambil liburan itu menyenangkan, ya ga?
    Continue Reading
    Banyak orang menyebut Candi Sukuh sebagai candi porno karena penggambaran alat kelamin manusia pada patung dan reliefnya. Candi Hindu ini terletak di bagian barat lereng Gunung Lawu pada ketinggian 900 mdpl, tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sekitar 30 km dari Kota Solo atau sekitar 15 km dari Candi Cetho. Candi Sukuh menghadap ke arah barat, berbeda dengan kebanyakan candi Hindu lainnya yang menghadap ke arah timur (terbitnya matahari).



    Menurut sejarah Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-15 Masehi dan ditemukan kembali oleh Johnson pada masa pemerintahan Britania Raya tahun 1815. Candi Sukuh pun terus menjadi obyek penelitian oleh Van der Vlis pada tahun 1942, Hoepermanans tahun 1864 – 1967, Verbeek tahun 1889 dan WF. Stutterheim dan Knebel di tahun 1910.

    Candi Hindu dengan luas 5.500 m² ini terdiri dari 3 teras. Teras pertama ditandai dengan gapura beratap (gapura paduraksa) dengan relief raksasa memakan orang di sebelah kanan dan raksasa memakan naga di sebelah kiri. Relief tersebut menggambarkan tahun selesainya pembangunan gapura ini. Pada pintu atas gapura terdapat hiasan arca (kalamakara), sedang pada lantai gapura terdapat relief alat kelamin wanita (lingga) dan alat kelamin pria (yoni) yang bersentuhan/berhubungan sebagai lambang kesuburan. Ini menjadi salah satu alasan mengapa candi ini dianggap candi porno. Saat ini lorong gapura diberi pagar sehingga tidak bisa dilalui.


    (Kalamakara di pintu atas gapura teras pertama)
    (Salah satu relief di Candi Sukuh)
    (Pemandangan dari teras pertama Candi Sukuh)
    Pada teras kedua tidak dijumpai adanya patung, hanya terdapat gapura bentar tanpa atap yang kondisnya sudah rusak. Naik ke teras ketiga terdapat pelataran besar dengan candi induk yang dihiasi beberapa relief di sebelah kiri dan beberapa patung di sebelah kanan. Tepat di atas candi utama terdapat tempat menaruh sesaji. Untuk naik ke atas candi pengunjung harus menaiki tangga yang relatif tinggi dengan lorong yang sempit.


    Pemandangan dari atas candi induk
    (Tangga dan lorong sempit untuk naik atas candi induk)
    (Tempat sesaji dan dupa di atas candi induk)


    Yang unik dan menarik dari Candi Sukuh selain bentuknya yang menyerupai piramida adalah konon tempat ini sering digunakan untuk uji kesetiaan dan uji keperawanan/keperjakaan. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp.3.000,- dan parkir motor Rp.2.000,- serta sewa kain kampuh dengan biaya seikhlasnya, pengunjung bisa menyusuri tiap sudut Candi Sukuh dan membuktkan mitos yang ada tersebut.
    Continue Reading

    Banyak yang tidak tahu kalau di dekat Candi Cetho ada air terjun dengan air yang sejuk dan segar, namanya Air Terjun Serendeng. Air terjun ini berada 600 meter dari Candi Cetho, yakni jalan di sebelah kiri sebelum memasuki undakan tertinggi Candi Cetho.


    Perjalanan menuju Air Terjun Serendeng masih berupa jalan tanah dengan sedikit menanjak. Walaupun begitu perjalanan tidak akan terasa karena rindangnya pepohonan dan suara gemericik air dari aliran sungai air terjun. Jalan menuju air terjun ini juga merupakan salah satu rute alternatif para pendaki Gunung Lawu.


    Di air terjun yang tingginya sekitar 8 meter ini pengunjung bisa bermain air sepuasnya karena sangat sepi, jarang sekali pengunjung Candi Cetho mampir ke air terjun ini. Sayangnya pengunjung tidak bisa berenang di bawah air terjun karena tidak terdapat kolam di bawahnya, hanya berupa bebatuan. 


    Untuk menuju ke Air Terjun Srendeng, pengunjung dikenakan biaya lagi sebesar Rp.3.000,- per orang. Selain air terjun, masih ada Sendang Saraswati dan Candi Kethek yang jalannya masih sejalur dengan air terjun ini.
    Continue Reading

    Udara dingin dan kabut tebal menyambutku ketika sampai di Candi Cetho. Tak terasa perjalanan sekitar 40 km dari Solo dengan medan yang berkelok-kelok dan tanjakan akhirnya berakhir. Pemandangan indah selama perjalanan menuju Candi Cetho berupa hamparan Kebun Teh Kemuning yang asri dan hijau mengurangi rasa bosan dan rasa capek di perjalanan. Di Kebun Teh Kemuning tersebut terlihat beberapa ibu-ibu yang sedang memetik daun teh.

    Letak
    Candi Cetho yang merupakan Candi Hindu ini terletak di Lereng Gunung Lawu (1.497 mdpl), tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk menuju lokasi Candi Cetho tidaklah sulit karena sudah ada papan petunjuk jalan, hanya saja kendaraan yang dipakai haruslah dalam kondisi bagus mengingat jalannya berkelok-kelok dan tanjakannya luar biasa. Sampai saat ini Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat ibadah, sehingga saat berkunjung kesini diwajibkan memakai kain kampuh (kain hitam putih yang diikatkan di pinggang seperti sarung), kain ini disediakan pengelola dengan biaya seikhlasnya.


    Sejarah Candi Cetho
    Candi Cetho diperkirakan dibangun pada tahun 1451-1470 atau pada masa Pemerintahan Raja Brawijaya V di Majapahit. Pembangunan candi bertujuan untuk ruwatan/ritual tolak bala karena pada waktu itu banyak terjadi kekacauan. Candi Cetho ditemukan oleh arkeolog Belanda bernama Van de Vlies pada tahun 1842. Pada saat ditemukan hanya berupa reruntuhan batu dengan14 teras/punden berundak, bentuknya memanjang dari barat ke timur. Pada akhir tahun 1970-an dilakukan pemugaran oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Presiden Suharto dan mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan dan pemugaran hanya dilakukan pada sembilan teras saja. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi mengingat pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura di bagian depan komplek candi, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung dan bangunan kubus pada bagian puncak punden. Kemudian dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, Bupati Karanganyar periode 2003-2008 (Rina Iriani) menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar pada bagian timur kompleks candi.

    Kondisi Candi Cetho sekarang
    Saat ini Candi Cetho tinggal 9 punden berundak. Memasuki undakan pertama dan gapura masuk, ada sepasang arca penjaga yang dinamakan Nyai Gemang Arum. Di undakan berikutnya terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho. Di undakan selanjutnya terdapat sebuah batu berbentuk kura-kura yang konon melambangkan penciptaan alam semesta. Di depan batu kura-kura terdapat simbol phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter sebagai simbol penciptaan manusia, dan undakan paling atas merupakan tempat ibadah. Di sebelah kiri sebelum memasuki undakan tertinggi terdapat jalan menuju Sendang Saraswati, Candi Kethek dan Air Terjun Serendeng.








    Tiket Masuk
    Untuk memasuki Komplek Candi Cetho pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp.7.000,- dan parkir motor Rp.2.000,-. Saat memasuki Candi Cetho pengunjung diharuskan mematuhi tata tertib yang ada. Sayangnya saya masih menemui beberapa pengunjung yang merokok, hal ini tentu saja akan mengotori Kompleks Candi Cetho dengan puntung rokok mereka.



    Continue Reading
    Inilah wisata hutan pinus yang lagi ngehits di Jogja selain Hutan Pinus Mangunan. Hutan Pinus Pengger ini merupakan bagian dari Kawasan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan yang terletak di Dusun Sendangsari, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Destinasi wisata ini bisa dicapai melaui 2 rute, melalui Patuk, Kabupaten Gunung Kidul atau melalui Imogiri, Kabupaten Bantul.


    Berbeda dengan hutan pinus lainnya yang hanya cocok dikunjungi pada saat siang hari, Hutan Pinus Pengger lebih cocok dikunjungi ketika malam hari dimana pengunjung akan dimanjakan dengan gemerlapnya lampu kota. Walaupun direkomendasikan untuk berkunjung di malam hari, tidak ada salahnya kalau berkunjung lebih awal, karena di Hutan Pinus Pengger terdapat spot bernama Watu Ngadeg yang bisa digunakan untuk menikmati pemandangan Gunung Merapi Merbabu dan sunset.

    (Pine cone /buah pinus)
    Selain Watu Ngadek, terdapat banyak spot foto lain di tempat ini, antara lain Pintu Love, Watu Lempeng, Jembatan Panjang, Asuma Paduraksa, Cetta Abhipraya, Marmati, dan Tangan Raksasa. Tangan Raksasa ini sekarang menjadi spot yang lagi ngehits di Hutan Pinus Pengger. Bahkan untuk bisa foto di spot ini, pengunjung harus mengambil antrian terlebih dahulu yang disediakan oleh pihak pengelola, nanti kalau sudah gilirannya akan dipanggil. Kalau datang sendiri atau sama pasangan tidak usah bingung siapa yang akan mengambil foto, karena pihak pengelola bisa membantu mengambilkan foto. Pada malam hari pun spot ini masih bisa digunakan untuk berfoto karena di ujung jari Tangan Raksasa terdapat lampu, begitu juga di beberapa spot foto yang lain yang dilengkapi dengan lampu pada malam hari yang akan membuat foto menjadi lebih kece. Untuk menikmati spot foto di Tangan Raksasa pengunjung dikenakan biaya Rp. 2.000,- sedangkan untuk spot foto lainnya pengunjung membayar seiklasnya.

    (Watu Lempeng)

    (Watu Ngadek)

    (Asuma Paduraksa)

    (Cetta Abhipraya)

    (Tangan Raksasa)
    Untuk memasuki Hutan Pinus Pengger pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp.2.000,-/orang dan parkir Rp.2000,- untuk motor dan Rp.10.000,- untuk mobil. Fasilitas yang ada sudah cukup lengkap, ada mushola, toilet, warung makan, gazebo, rumah pohon, wifi dan tempat parkir. Sayangnya tempat parkir untuk motor terbilang sempit, tidak seperti parkir mobil yang lebih lapang. Selain itu tidak terlihat petugas yang mengatur di tempat parkir motor sehingga motor tidak tertata dengan rapi, berbeda dengan parkir mobil yang dijaga dan diatur oleh beberapa petugas.

    (Tempat parkir motor)
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories
    Powered by Blogger.

    Find Me

    • facebook
    • instagram
    • youtube

    recent posts

    Labels

    Air Terjun Articles Bantul Coretan Desa Wisata Destinations Gunungkidul Jawa Tengah Jawa Timur Jogja Lain-lain Lampung Others Palembang Sleman Soloraya Sumatra Utara Sunrise Sunset Videos

    Blog Archive

    • June 2020 (3)
    • August 2018 (1)
    • May 2018 (1)
    • October 2017 (2)
    • August 2017 (7)
    • July 2017 (8)
    • June 2017 (8)
    • May 2017 (21)
    • April 2017 (7)
    • April 2016 (2)

    Wonderful Indonesia

    Wonderful Indonesia

    Translate

    facebook instagram Twitter youtube google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top