Solo Traveler

    • Home
    • About
    • Destinations
    • _Jogja
    • _Lampung
    • _Jawa Tengah
    • _Jawa Timur
    • _Lain-lain
    • Others
    • _Videos
    • _Articles

    Satu lagi destinasi wisata baru di Kabupaten Bantul, namanya Gunung Mungker. Menurut Lurah Desa Terong, Bapak Welasiman, Gunung Mungker baru dibuka pada bulan Januari 2017 dan saat ini masih dalam tahap pengembangan. Dahulu Gunung Mungker hanyalah sebuah gunung yang sepanjang jalannya berupa tanaman dan pohon liar. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Gunung Mungker merupakan puncak tertinggi di Kabupaten Bantul yang secara administratif berada di Pedukuhan Pencitrejo, Desa Terong, Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul. Dari Puncak Gunung Mungker selain panorama sunrise dan sunset, pengunjung bisa melihat hamparan perbukitan Gunung Kidul yang hijau dan ombak pantai selatan Jogja. Untuk menguji adrenalin, terdapat arena flying fox sepanjang 120 meter dari puncak Gunung Mungker.

    (Spanduk di pintu masuk)



    Gunung Mungker berada di jalur ke arah Puncak Pengger, akses menuju Gunung Mungker sangat gampang, ikuti papan petunjuk yang ada atau bisa juga menggunakan GPS. Begitu  memasuki kawasan Gunung Pengger terdapat sebuah spanduk selamat datang dan sebuah loket masuk. Setelah membayar tiket masuk, saya dipersilahkan mengikuti jalan berupa paving block. Jalan tersebut melingkari bukit Gunung Mungker, bahkan pengunjung bisa mengendarai motor atau mobilnya sampai ke atas sehingga memudahkan pengunjung untuk menuju puncak. 


    (Lapangan dan aula/ruang pertemuan)

    (Aula/ruang pertemuan)
    Walaupun masih terbilang baru, fasilitas di Gunung Mungker sudah lumayan lengkap. Selain tempat parkir, sudah ada toilet, mushola, warung makan, gazebo dan tempat duduk dari papan. Ada juga aula/ruang pertemuan  yang disewakan untuk umum. Di depan aula terdapat lapangan yang biasa digunakan warga untuk senam. Untuk memasuki Gunung Mungker pengunjung hanya dikenakan biaya parkir motor Rp.3.000,-, mobil Rp.10.000,- dan bus Rp.20.000,-


    (Ulah oknum yang tidak bertanggungjawab, mencorat-cotet fasilitas yang ada)
    Continue Reading


    Watu Loncat? Nama yang cukup unik. Pasti kita harus loncat untuk bisa sampai ke batu tersebut. Saya pun terus mengikuti papan petunjuk yang ada (yang saya baca ketika dalam perjalanan menuju Pinus Pengger). Papan petunjuk terakhir berada di samping Puskesmas Dlingo II. Saya memasuki jalan tersebut, setelah 50 meter saya mulai memasuki hutan jati dengan jalan berupa tanah yang becek dan tidak menemukan petunjuk lagi. Akhirnya saya putar balik untuk bertanya kepada warga.


    (Papan petunjuk disamping Puskesman Dlingo II)
    Informasi dari warga akses menuju ke Watu Loncat memang masih sulit, jaraknya sekitar 1 km, kalau berani bisa memakai motor. Sayapun memberanikan diri untuk memakai motor. Sesuai petunjuk dari warga, setelah masuk ke jalan yang masih berupa tanah dan ketemu tower sutet, ambil jalan di kanan tower di dekat pohon bambu, jangan lewat dibawah tower, lalu ikuti terus jalan setapak yang ada. Ketika melewati jalan setapak ini haruslah sangat berhati-hati karena jalannya sempit dan disampingnya berupa jurang.

    (Jalan tanah masuk hutan jati sebelum tower sutet)

    (Jalan setapak menuju Watu Loncat)
    Setelah sampai di ujung jalan setapak, parkirkan motor di dekat gubug dan lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter melewati semak-semak. Begitu sampai di atas akan terlihat tiga buah batu besar, diantara tiga batu tersebut ada satu batu diujung jurang. Untuk bisa ke batu tersebut saya harus meloncat, jaraknya sekitar 75 cm. Inilah alasannya kenapa tempat ini dinamakan Watu Loncat. Pemandangan berupa tumbuhan dan sawah yang hijau bisa disaksikan dari atas batu ini. Tempat ini sangat cocok untuk melihat sunrise dan sunset. Secara administratif Watu Loncat berada di Pedukuhan Pencitrejo, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

    (Ujung jalan setapak, parkirkan motor disini)

    (Pohon terakhir di dekatWatu Loncat)
    (Jarak antara batu yang dilompati , sekitar 75 cm)

    (Panorama dari atas Watu Loncat)

    Di Watu Loncat belum ada fasilitas pendukung sama sekali, cuma ada papan petunjuk yang merupakan karya mahasiswa KKN salah satu perguruan tinggi di Yogyakarya tahun 2016. Selain akses yang sulit, tidak adanya alat pengamanan di Watu Loncat apabila ingin melompat dari satu batu ke batu lainnya menjadi salah satu kendala tempat ini masih kurang diminati, karena untuk melompat butuh keberanian apabila tidak ingin mengambil resiko. Tidak dikenakan biaya apapun untuk menikmati pemandangan dari Watu Loncat ini, yang dibutuhkan hanya nyali. 
    Continue Reading
    Ingin melihat seribu bintang di angkasa? Tempat ini bisa mewujudkan keinginanmu. Destinasi wisata yang yang bernama Bukit Lintang Sewu ini berada di Dusun Karangasem, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Letaknya tidak jauh dari Pinus Asri dan masih masuk dalam Kawasan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan. Pada malam hari dari bukit ini terlihat jelas bintang-bintang di angkasa yang jumlahnya ribuan, hal inilah yang mendasari pemberian nama destinasi wisata ini, yakni Bukit Lintang Sewu (dari bahasa Jawa) yang dapat diartikan Bukit Seribu Bintang. Destinasi wisata yang dikembangkan pada awal tahun 2016 ini menawarkan daya tarik utama untuk menikmati sunset dan pemandangan Kota Jogja pada malam hari, walaupun demikian pada pagi dan siang hari tempat ini masih sangat menarik untuk dikunjungi.


    Memasuki Kawasan Bukit Lintang Sewu, saya menemukan panorama yang berbeda. Kalau di Kawasan RPH Mangunan lainnya berupa hutan pinus, di Bukit Lintang Sewu panoramanya berupa hutan kayu putih dan pohon cemara. Untuk mencapai puncak Bukit Lintang Sewu saya harus berjalan sekitar 100 meter dengan medan yang landai. Terdapat beberapa gazebo, gardu pandang dan spot foto di Bukit Lintang Sewu yang semuanya bisa dinikmati tanpa tambahan biaya. Selain spot foto, Bukit Lintang Sewu  bisa digunakan untuk acara outbound dan camping.

    (Pintu masuk Wisata Bukit Lintang Sewu)
     
    (Watu Irung)
    (Spot Tapak Buto)
    (Jalan menuju spot Omah Tawon)
    (Spot Omah Tawon)
    (Spot Omah Tawon)

    Untuk masuk ke Bukit Lintang Sewu pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp. 2.000,- dan biaya parkir motor Rp.2.000,-. Fasilitas yang ada di Bukit Lintang Sewu antara lain camping ground, parkir, gazebo, toilet, dan warung makan. 
    Continue Reading

    Goa Selarong dikenal sebagai tempat bersejarah, yakni tempat persembunyian Pangeran Diponegoro. Berlokasi di Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari, Kecamatan Panjangan, Kabupaten Bantul, Kompleks Goa Selarong berada di perbukitan kapur yang ditumbuhi pepohon yang rindang. Untuk mencapai goa pengunjung harus melewati beberapa anak tangga yang curam sejauh 400 meter.

    (Tangga menuju Goa Selarong)
    Secara kasat mata, Goa Selarong terlihat buntu, hanya berupa cekungan. Namun menurut cerita goa ini bisa dimasuki oleh Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya karena di goa ini terdapat sebuah pintu gaib yang kasap mata. Selain goa utama, terdapat 2 goa lain yang menjadi bagian dari Goa Selarong, yaitu Goa Kakung dan Goa Putri.


    Tujuan utama saya kesini memang bukan untuk ke Goa Selarongnya tetapi lebih ke curugnya. Curug Selarong sendiri terletak disebelah Goa Selarong, hanya berjarak beberapa meter saja. Waktu saya kesini curug dengan ketinggian sekitar 20 meter ini debit airnya sangat sedikit, mungkin akan berbeda jika musim hujan. Jalan menuju curug seakan belum dibuat, hanya berupa jalan tanah dan berbatu yang curam dan licin, sayapun sempat terpeleset dan hampir jatuh. Saya juga tidak melihat pengunjung lain berada di sekitar curug ini, mungkin karena debit airnya yang kecil sehingga tidak banyak orang yang tahu akan keberadaan curug ini. Kalau saja pengelola menambahkan papan penunjuk arah menuju ke Curug Selarong, mungkin banyak pengunjung yang akan tertarik untuk sekedar menikmati keindahan dan kesegaran air curug ini.

    Ada berbagai fasilitas yang ada di Kawasan Goa Selarong ini, ada beberapa gazebo berbentuk joglo, arena bermain anak-anak, toilet dan masjid. Di sekitaran Kawasan Goa Selarong juga sudah ada beberapa warung dan beberapa pengasong makanan dan minuman serta buah yang kebanyakan nenek-nenek dan ibu-ibu.



    Karena saya masuknya lewat jalan dan pintu masuk yang “tidak semestinya,” saya tidak mengeluarkan biaya apapun. Flashback perjalanan saya dari Kedung Pengilon, saya menggunakan GPS di smartphone untuk menuju Goa Selarang. Jaraknya sekitar 5 km, saya sempat ragu sewaktu petunjuk di GPS mengharuskan saya belok ke kanan memasuki area hutan. Saya terus memasuki hutan yang jalannya masih berupa tanah yang sebagian berbatu terjal tersebut. Setelah 600 meter akhirnya saya bertemu dengan rombongan komunitas trail yang sedang istirahat di sebuah gazebo. Saya sempat ditertawakan mereka karena berani memasuki hutan sendirian dengan medan yang harusnya buat motor trail. Menurut mereka GPSnya salah, tetapi menurut saya GPS di smartphone saya tidak salah, buktinya saya beneran sampai ke tujuan, cuma tidak melewati pintu masuk yang “tidak semestinya.” Setelah memarkirkan motor di dekat gazebo tersebut, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni tangga yang sedikit basah dan licin sejauh 100 meter untuk menuju Kawasan Goa Selarong.

    Continue Reading

    Curug yang bisa buat bercermin? Sebening apa airnya? Saya mendapatkan informasi destinasi wisata ini dari penjaga parkir di Curug Pulosari. Setelah terlebih dahulu mengunjungi Curug Banyunibo yang tidak jauh dari Curug Pulosari, saya melanjutkan perjalanan ke Kedung Pengilon.


    Setelah menempuh jarak sekitar 5 km, akhirnya saya sampai ke Kedung Pengilon. Kedung Pengilon terletak di Dusun Petung, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Setelah memarkirkan motor, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni anak tangga (yang kayaknya belum lama dibangun). Setelah berjalan sekitar 200 meter diantara hutan jati, terlihat sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 10 meter dengan sebuah kolam berwarna hijau tosca dibawahnya dengan diameter sekitar 15 meter. Dari papan informasi yang ada, kedalaman kolam mencapai 8 meter. Untuk menyeberang ke sisi lain Kedung Pengilon dibangun sebuah jembatan.

    (Papan informasi dan peringatan serta jembatan untuk menyeberang ke sisi lain curug)
    Sewaktu saya datang, saya melihat beberapa pengunjung yang meloncat dan meluncur bebas ke dalam kolam, ada juga yang sekedar duduk-duduk di gazebo sambil menikmati pemandangan air terjun. Adapun asal usul nama Kedung Pengilon berasal dari kolam (kedung) yang airnya sangat jernih sehingga bisa digunakan untuk pengilon (bercermin). Konon terdapat mitos kalau Kedung Pengilon dikuasai oleh ratu ular gaib bernama Nini Blorong yang bermukim di pusaran air di tengah curug. Nini Blorong akan meminta tumbal setiap tahunnya dan mengganggu pengunjung yang jahil. Tak heran kalau selain dikunjungi wisatawan, Kedung Pengilon juga sering didatangi orang-orang yang melakukan ritual kebatinan.



    Berkunjung ke destinasi wisata ini sebaiknya pada musim penghujan dimana debit airnya akan cukup besar, tidak seperti pada saat saya berkunjung, debit airnya kecil. Untuk memasuki Kedung Pengilon pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, hanya dikenakan biaya parkir Rp.2.000,- Di Kedung Pengilon sudah tersedia toilet, kamar ganti dan gazebo, saya tidak melihat warung yang menjajakan makanan dan minuman.
    Continue Reading

    Curug Banyunibo tidak seperti air terjun kebanyakan yang airnya langsung jatuh kebawah dari atas ketinggian, melainkan airnya mengalir melewati lereng berbatu dengan kemiringan sekitar 70 derajat dan tinggi sekitar 10 meter. Airnya jernih kehijauan akibat warna dari lumut yang tumbuh diantara bebatuan. Suasananya sangat tenang dengan udara yang segar, saya tidak menjumpai orang lain di curug ini. Selang beberapa menit kemudian terlihat beberapa anak yang datang untuk mandi dan bermain air di curug ini. Debit air curug tidak banyak, mungkin karena sudah tidak musim hujan.

    Curug ini berada di Dusun Kabrokan Kulon, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, berada tidah jauh dari Curug Pulosari, sekitar 1 km. Saya mengikuti papan petunjuk yang ada dan bertanya kepada warga sekitar agar tidak kesasar. Setelah melewati perkampungan dengan medan jalan berupa cor akhirnya saya sampai tujuan dan memarkirkan kendaraan di rumah warga. Dari tempat parkir saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter melewati jalan yang sedikit menurun.




    Untuk menikmati keindahan curug ini tidak dikenakan retribusi masuk, hanya dikenakan biaya parkir Rp.2.000,-. Belum terlihat fasilitas penunjang di destinasi wisata ini, hanya ada tempat duduk sederhana dan tempat parkir yang masih menggunakan halaman rumah warga.
    Continue Reading

    Curug tapi bentuknya seperti tirai putih, itu informasi awal yang saya dapat dari instagram. Curug ini terletak di Desa Krebet, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, 17 km dari pusat Kota Jogja. Sekedar informasi, Desa Krebet dikenal sebagai sentra wisata kerajinan batik kayu. Batik kayu adalah proses pembatikan pada media kayu, uniknya proses pembatikan sama dengan pada kain, yaitu menggunakan canting. 

    Dengan menggunakan GPS di smartphone saya berangkat menuju curug ini. Di GPS jarak yang tertera sekitar 20 km atau 45 menit. Jalan menuju curug ini terbilang bagus, tetapi begitu sampai di Desa Krebet jalannya agak rusak, sehingga disarankan kalau mau kesini lebih enak dengan menggunakan motor. Setelah memarkirkan motor dan membayar biaya parkir Rp.3.000,- (tidak ada retribusi tiket masuk) saya masih harus berjalan sekitar 200 meter menuruni jalan setapak berbatu yang terjal dan curam. Apabila merasa capek bisa intirahat sejenak di gubug-gubug yang ada di sepanjang jalan menuju curug ini.
     
    (Papan petunjuk menuju curug)
    (Jalan setapak berbatu yang terjal dan curam menuju curug)
    Setelah menyeberang jembatan kayu (yang terlihat agak rapuh), mulai terdengar suara gemericik air terjun diantara asrinya pohon jati. Jika dilihat dari atas, Curug Pulosari kurang begitu bagus, namun begitu turun ke bawah terlihat pemandangan air terjun yang indah seperti tirai putih dengan kolam dibawahnya. Air terjun dengan ketinggian sekitar 5 meter ini airnya sangat jernih, sayang debit airnya tidak banyak. Informasi dari warga air mengalir cukup deras pada waktu musim hujan, bahkan pada musim kemarau curug ini kering.




    Fasilitas yang tersedia antara lain gazebo, tempat duduk dan warung penjaja makanan dan minuman. Sewaktu mau pulang saya membeli sebotol legen (minuman tradisional dari pohon siwalan) seharga Rp.5.000,- untuk sekedar menghilangkan dahaga, sayangnya legennya tidak murni, dicampur dengan air dan gula, tidak seperti legen yang ada di Tuban, Jawa Timur.
    Continue Reading
    Bukit Panguk Kediwung terletak di Pedukuhan Kediwung, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul, tidak jauh dari Kebun Buah Mangunan. Papan petunjuk menuju Bukit Panguk Kediwung masih sangat minim, lebih baik tanya kepada warga arah menuju ke Pedukuhan Kediwung. Jika telah sampai di Pedukuhan Kediwung, baru ikuti papan petunjuk yang ada menuju ke Bukit Panguk Kediwung. Jalannya masih berupa bebatuan.


    Objek wisata Bukit Panguk Kediwung menawarkan pemandangan alam dengan latar pegunungan dan Sungai Oyo. Waktu terbaik berkunjung ke Bukit Panguk Kediwung adalah di pagi hari untuk menyaksikan sunrise. Matahari yang pelan-pelan muncul dari balik perbukitan dengan hamparan kabut yang menyelimuti Sungai Oyo menjadikan pemandangan terlihat sangat mempesona.


    Selain menyaksikan sunrise, pengunjung juga bisa foto di spot yang ada. Ada lebih dari 10 spot foto di destinasi wisata ini, ada kapal kertas, bentul love, bunga teratai, tulisan bukit panguk dan masih banyak lagi, sayangnya setiap spot dikenakan biaya Rp.3.000,-. Ada beberapa cewek yang bertugas menjaga spot-spot tersebut. Karena  semua spot fotonya berbayar, saya cuma mengambil beberapa foto saja, takut dikejar mbak-mbak yang jaga kalo ga bayar, hahahaa


    Untuk masuk ke destinasi wisata Bukit Panguk Kediwung, pengunjung tidak dikenakan retribusi tiket masuk, tetapi dikenakan biaya parkir motor Rp.2.000,-. Selain tempat parkir yang luas, fasilitas yang ada sudah cukup lumayan lengkap, ada mushola, gazebo, warung makan dan toilet.
    Continue Reading
    Ada batu bisa terbang? Itulah yang terlintas ketika mendengar nama Tebing Watu Mabur. Destinasi wisata yang berada di Pedukuhan Lemahbang, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini tidak jauh dari Kebun Buah Mangunan. Untuk menuju Tebing Watu Mabur tidaklah sulit, cukup ikuti papan petunjuk yang sudah ada. Penamaan Tebing Watu Mabur sendiri dikarenakan tebing ini terlihat melayang di atas awan ketika lembah di bagian bawahnya dipenuhi kabut pada pagi hari.
    Daya tarik utama Tebing Watu Mabur adalah pemandangan alam dari atas perbukitan. Dari tempat ini tampak pemandangan perbukitan dengan terasering sawah yang membentuk pola yang unik dan menarik serta aliran Sungai Oyo. Tempat ini sangat cocok untuk menikmati sunrise karena menghadap ke arah timur. Terdapat beberapa spot foto yang semuanya gratis. Selain sebagai tempat wisata alam, Tebing Watu Mabur juga dijadikan sebagai lokasi berkemah (camping ground).  





    Untuk masuk ke Jurang Tembelan pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 2.000,- Fasilitas pendukung kawasan wisata Tebing Watu Mabur belum lengkap, cuma ada tempat parkir yang dibuat seadanya.

    Lokasi Tebing Watu Mabur masih berada satu kawasan dengan wisata Goa Gajah Dlingo. Dinamakan goa gajah, karena di dalam goa terdapat batu yang berbentuk seperti binatang gajah. Pintu keluar goa berada di ujung lain yang pintu keluarnya harus dengan menaiki tangga.



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories
    Powered by Blogger.

    Find Me

    • facebook
    • instagram
    • youtube

    recent posts

    Labels

    Air Terjun Articles Bantul Coretan Desa Wisata Destinations Gunungkidul Jawa Tengah Jawa Timur Jogja Lain-lain Lampung Others Palembang Sleman Soloraya Sumatra Utara Sunrise Sunset Videos

    Blog Archive

    • June 2020 (3)
    • August 2018 (1)
    • May 2018 (1)
    • October 2017 (2)
    • August 2017 (7)
    • July 2017 (8)
    • June 2017 (8)
    • May 2017 (21)
    • April 2017 (7)
    • April 2016 (2)

    Wonderful Indonesia

    Wonderful Indonesia

    Translate

    facebook instagram Twitter youtube google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top